WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat secara terbuka memasang hadiah fantastis hingga 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang bisa memberikan informasi tentang keberadaan pemimpin baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Program hadiah tersebut diumumkan melalui Rewards for Justice (RFJ) milik Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Jumat (14/3/2025).
Baca Juga:
Kontroversi Trump: Iran Disebut Habis Tenaga tapi Masih Dipersilakan ke Piala Dunia
“Rewards for Justice menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS (sekitar Rp169,5 milyar) untuk informasi tentang para pemimpin kunci Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan cabang-cabang komponennya.”
Program RFJ menyebut para tokoh tersebut sebagai figur penting yang memimpin serta mengarahkan berbagai elemen IRGC yang diduga terlibat dalam perencanaan, pengorganisasian, hingga pelaksanaan aksi terorisme di berbagai wilayah dunia.
“Individu-individu ini memimpin dan mengarahkan berbagai elemen IRGC, yang merencanakan, mengatur, dan melaksanakan terorisme di seluruh dunia.”
Baca Juga:
Konflik Melebar, Washington Kirim Marinir dari Jepang ke Timur Tengah
Menurut keterangan RFJ, hadiah itu tidak hanya ditujukan untuk informasi mengenai Mojtaba Khamenei, tetapi juga sejumlah pejabat penting lain di lingkaran kekuasaan Iran.
Beberapa nama yang disebut antara lain Wakil Kepala Staf di Kantor Pemimpin Tertinggi (SLO) Ali Asghar Hejazi, penasihat SLO Ali Larijani, Menteri Dalam Negeri Brigjen Eskandar Momeni, serta Menteri Intelijen dan Keamanan Iran Esmail Khatib.
Langkah Washington tersebut muncul setelah situasi konflik meningkat tajam menyusul serangan militer besar yang terjadi sebelumnya di wilayah Iran.
Pada Jumat (28/2/2025), Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan besar, korban sipil, serta menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Setelah kematian Ali Khamenei, putranya Mojtaba Khamenei kemudian terpilih sebagai pemimpin baru Iran.
Pemerintah Iran tidak mengumumkan perubahan lain dalam struktur kepemimpinan militer negara tersebut setelah pergantian tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel pada awalnya menyatakan serangan yang mereka lakukan sebagai langkah “pendahuluan” untuk menghadapi ancaman yang dinilai berasal dari program nuklir Iran.
Namun seiring perkembangan situasi, kedua negara tersebut secara terbuka memperjelas bahwa tujuan strategis mereka adalah mendorong terjadinya perubahan rezim di Iran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]