Kandungan lemak ikan sapu-sapu juga patut diwaspadai. Lemak pada ikan dari perairan tercemar dapat menjadi tempat terakumulasinya senyawa toksik persisten, seperti pestisida dan polutan organik berbahaya.
Zat-zat ini sulit diuraikan oleh tubuh manusia dan dapat menumpuk dalam jangka panjang, memicu gangguan hormon, menurunkan sistem kekebalan tubuh, serta berdampak buruk pada kesehatan reproduksi.
Baca Juga:
Bupati Taput Kesehatan Masyarakat Lebih Utama, Pastikan Pelayanan Humanis dan Prima
Dari sisi gizi, ikan sapu-sapu sebenarnya tidak memiliki keunggulan nutrisi yang signifikan dibandingkan ikan air tawar lain yang dibudidayakan di lingkungan bersih.
Kandungan protein yang ada tidak sebanding dengan potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan jika ikan tersebut berasal dari sungai tercemar.
Oleh karena itu, mengonsumsi ikan ini sebagai sumber protein utama tidak direkomendasikan, terutama jika asal perairannya tidak jelas dan tidak terpantau kualitas lingkungannya.
Baca Juga:
Dukung Kesejahteraan Masyarakat, PLN UP3 Cimahi Sinergikan Program Paket Gizi Sehat
Pakar kesehatan dan lingkungan mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih sumber pangan dari perairan umum. Ikan yang hidup di sungai tercemar sebaiknya tidak dikonsumsi, meskipun terlihat sehat atau telah diolah dengan berbagai cara.
Upaya perlindungan kesehatan masyarakat perlu dibarengi dengan pengendalian pencemaran sungai serta edukasi publik mengenai risiko pangan dari lingkungan yang tercemar.
Sebagai alternatif, masyarakat disarankan memilih ikan hasil budidaya yang diawasi kualitas air dan pakannya, atau ikan tangkapan dari perairan yang terbukti bersih.