WAHANANEWS.CO, Jakarta - Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan BPOM RI, Mohamad Kashuri buka-bukaan soal kondisi industri jamu di Indonesia.
Ia mengatakan, saat ini industri jamu Indonesia menghadapi banyak tantangan yang sangat komplek mulai dari hulu hingga hilir. Salah satunya dari sisi regulasi.
Baca Juga:
Tekan Impor, Perkuat Produksi Nasional demi Selamatkan Ekonomi dan Buka Jutaan Lapangan Kerja
Menurutnya sebagian besar pemain jamu Indonesia, tidak hanya industri besar, tapi juga dilakukan oleh Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) banyak yang tidak memahami regulasi.
"Sehingga tentu akan mendapatkan hambatan saat regulasi atau pada saat melakukan marketing," jelasnya dalam Health Forum, Selasa (26/5/2026).
Selain itu lanjutnya, permasalahan lain yang dihadapi industri saat ini yakni terkait dengan aspek pemodalan. Padahal modal dinilai sangat penting dalam mendorong bisnis jamu, khususnya bagi UMKM.
Baca Juga:
RI Masih Impor BBM Jenis Bensin 20 Kilo Liter/Tahun, Tapi Bukan dari Timur Tengah
Ia menjelaskan, saat ini sangat banyak UMKM jamu di Indonesia yang tidak memiliki modal cukup. Sehingga pada saat mereka mau mengembangkan bisnisnya jadi terkendala.
Kemudian, yang berikutnya adalah aspek produksi. Dalam produksi ini, pelaku industri ujar Kashuri sangat membutuhkan bahan baku yang berkualitas dan memiliki standar. Namun seperti diketahui, bahan baku jamu saat ini masih banyak impor.
"Ini juga menjadi kendala di sini pada UMKM. Kemudian berikutnya adalah bagaimana mereka melakukan inovasi produknya. Produk yang memiliki manfaat yang baik, tapi juga produknya memiliki tampilan yang menarik. Ini juga menjadi kendala. Artinya yang berikutnya adalah marketing, pemasarannya juga menjadi tantangan. Bagaimana jamu kita bisa berperan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Jadi sangat banyak, kompleks," terangnya.