Tidak hanya berasal dari pengalaman pribadi, fobia juga dapat terbentuk melalui proses belajar dari lingkungan sekitar.
Anak-anak maupun orang dewasa bisa menyerap rasa takut dengan melihat orang lain bereaksi panik terhadap suatu objek atau keadaan.
Baca Juga:
Kirim Pesan Maaf ke Istri, Pria Berinisial WH Ditemukan Tewas dengan Luka Tembak di Kamar Hotel
Misalnya, seorang anak yang terus-menerus melihat orang tuanya ketakutan terhadap ular berpeluang memiliki ketakutan serupa meskipun belum pernah berinteraksi langsung dengan hewan tersebut.
Selain itu, paparan informasi yang diterima secara berulang juga dapat memengaruhi terbentuknya fobia.
Berita, cerita, tayangan film, maupun pengalaman yang dibagikan orang lain mengenai bahaya suatu hewan, tempat, atau kondisi tertentu mampu membentuk persepsi bahwa hal tersebut sangat mengancam, meskipun seseorang belum pernah mengalaminya secara langsung.
Baca Juga:
Sering Haus Validasi? Bisa Jadi Itu Tanda Main Character Syndrome
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa manusia secara alami lebih mudah mengembangkan rasa takut terhadap ancaman yang memiliki kaitan dengan sejarah evolusi.
Hewan seperti ular dan laba-laba, serta kondisi seperti berada di tempat yang sangat tinggi, termasuk contoh ancaman yang sejak ribuan tahun lalu dianggap berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.
Dari perspektif evolusi, kemampuan otak untuk mengenali ancaman dengan cepat menjadi salah satu mekanisme bertahan hidup yang dimiliki nenek moyang manusia.