WAHANANEWS.CO, Jakarta - Protein selama ini identik dengan nutrisi sehat untuk membangun otot dan memperbaiki jaringan tubuh, tetapi temuan terbaru menunjukkan konsumsi berlebihan justru berpotensi membawa konsekuensi berbeda, terutama bagi orang dewasa yang minim aktivitas fisik.
Protein memang menjadi salah satu nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk membangun, mempertahankan, serta memperbaiki berbagai jaringan.
Baca Juga:
Tips Menurunkan Berat Badan dengan Nutrisi Lengkap dan Porsi Tepat
Namun, manfaat protein tidak berarti akan terus meningkat seiring semakin banyaknya jumlah yang dikonsumsi seseorang.
Sebuah tinjauan ilmiah terhadap sekitar 350 makalah penelitian menemukan adanya hubungan antara asupan protein, metabolisme, sistem pendeteksi nutrisi di dalam sel, serta berbagai proses biologis yang berkaitan dengan penuaan.
Temuan tersebut memberikan perspektif baru mengenai bagaimana jumlah sekaligus jenis protein yang dikonsumsi seseorang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Rahasia Sehat dari Ikan Lele: Kandungan Gizi Lengkap untuk Tubuh
Tinjauan yang diterbitkan Cell Press dengan melibatkan peneliti dari University of Wisconsin-Madison tersebut menantang anggapan bahwa konsumsi protein tinggi selalu memberikan manfaat bagi tubuh.
Berdasarkan analisis terhadap sekitar 350 makalah ilmiah, para peneliti menemukan bahwa pembatasan asupan protein atau asam amino tertentu berpotensi memperbaiki kesehatan metabolisme dan memperlambat sejumlah proses biologis yang berkaitan dengan penuaan.
Para peneliti tetap menegaskan bahwa protein merupakan nutrisi krusial bagi orang yang aktif secara fisik karena dibutuhkan dalam proses pembangunan dan perbaikan jaringan.
Catatan berbeda diberikan kepada orang dewasa yang menjalani gaya hidup sedenter atau menghabiskan banyak waktu tanpa aktivitas fisik karena konsumsi protein berlebih pada kelompok tersebut berpotensi membawa konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan.
Salah satu kunci untuk memahami fenomena tersebut berada pada mekanisme tubuh ketika mendeteksi keberadaan nutrisi yang masuk melalui makanan.
Ketika seseorang mengonsumsi protein, tubuh mengaktifkan sistem pendeteksi nutrisi di dalam sel yang dikenal sebagai mTORC1.
Dalam kondisi normal, mTORC1 mendorong sel untuk tumbuh sekaligus membangun material baru yang dibutuhkan tubuh.
Mekanisme pertumbuhan tersebut sangat bermanfaat selama masa pertumbuhan, kehamilan, maupun ketika tubuh sedang melakukan pemulihan setelah mengalami cedera.
Namun, sinyal pertumbuhan yang terus aktif pada orang dewasa yang kurang bergerak berpotensi memicu sejumlah persoalan pada tubuh.
Aktivasi berkepanjangan tersebut dikaitkan dengan potensi terjadinya disfungsi seluler, peradangan, resistensi insulin, serta kondisi yang dapat berkontribusi terhadap obesitas.
Sebaliknya, pembatasan asupan protein dalam kondisi tertentu dapat memberikan kesempatan kepada sel untuk beralih dari mekanisme pertumbuhan menuju proses pemeliharaan.
Ketika ketersediaan asam amino menurun, sel dapat mengaktifkan sistem pertahanan yang membantu membersihkan komponen rusak, meningkatkan ketahanan terhadap stres, serta mengoptimalkan fungsi metabolisme.
Peran Hormon FGF21 dalam Metabolisme dan Penuaan
Salah satu mekanisme yang menjadi perhatian dalam tinjauan tersebut adalah fibroblast growth factor 21 atau FGF21, yakni hormon yang produksinya dapat meningkat ketika tubuh mendeteksi ketersediaan protein dalam jumlah rendah.
FGF21 tidak hanya berkaitan dengan sinyal terhadap kondisi nutrisi tubuh karena hormon tersebut juga memiliki peran dalam meningkatkan pengeluaran energi, membantu pengaturan kadar gula darah, serta menekan peradangan sistemik.
Eksperimen terhadap hewan menunjukkan peningkatan kadar FGF21 secara konsisten berkaitan dengan umur yang lebih panjang.
Mekanisme tersebut menunjukkan hasil yang kuat pada penelitian terhadap tikus, tetapi para peneliti mengingatkan bahwa bukti langsung mengenai efek serupa pada manusia masih terus dikembangkan.
Data awal pada manusia menunjukkan pembatasan protein dapat memicu respons hormonal serupa yang berpotensi berkontribusi terhadap penurunan berat badan serta perbaikan profil gula darah.
Meski demikian, hasil penelitian pada hewan tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi rekomendasi bahwa manusia harus mengurangi protein secara drastis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dampak protein terhadap tubuh tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya karena masing-masing asam amino penyusun protein dapat memberikan pengaruh berbeda.
Tinjauan tersebut menyoroti empat asam amino yang dinilai memiliki pengaruh penting, yakni metionin, isoleusin, valin, dan leusin.
Dalam salah satu penelitian yang dirangkum para ilmuwan, pembatasan valin pada tikus menghasilkan peningkatan kesehatan metabolisme yang signifikan.
Pembatasan valin juga dikaitkan dengan berkurangnya sejumlah tanda penuaan seluler dan kelemahan fisik pada hewan percobaan.
Efek yang paling menarik terlihat pada tikus jantan karena pembatasan valin dalam penelitian tersebut dikaitkan dengan peningkatan umur hingga 23 persen.
Temuan tersebut membuka kemungkinan bahwa pendekatan nutrisi pada masa mendatang tidak hanya berfokus pada berapa banyak protein yang dikonsumsi, tetapi juga memperhatikan komposisi asam amino di dalam makanan.
Namun, penelitian lebih lanjut pada manusia tetap diperlukan sebelum pembatasan asam amino tertentu dapat diterapkan sebagai rekomendasi diet secara luas.
Siapa yang Justru Membutuhkan Lebih Banyak Protein?
Temuan mengenai potensi manfaat pembatasan protein tidak berlaku sama bagi seluruh orang karena terdapat sejumlah kelompok yang justru menghadapi risiko apabila mengonsumsi protein terlalu sedikit.
Lansia
Kelompok lanjut usia menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena proses penuaan sering disertai sarkopenia atau penurunan massa dan kekuatan otot secara bertahap.
Asupan protein yang memadai pada lansia, terutama ketika dikombinasikan dengan latihan ketahanan, berperan penting dalam membantu mempertahankan massa otot, kekuatan, serta kemandirian fisik.
Karena itu, pembatasan protein tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh pada kelompok lanjut usia justru dapat memberikan dampak yang berlawanan dengan tujuan menjaga kesehatan.
Atlet dan Individu Sangat Aktif
Kebutuhan protein juga berbeda pada atlet maupun individu yang menjalani aktivitas fisik dan latihan otot secara rutin.
Pada kelompok tersebut, protein digunakan tubuh secara efisien untuk membantu proses pemulihan dan perbaikan jaringan setelah melakukan aktivitas fisik.
Aktivitas fisik yang tinggi juga diperkirakan dapat bertindak sebagai penyeimbang terhadap sinyal pertumbuhan sehingga protein yang dikonsumsi dapat dimanfaatkan untuk mendukung adaptasi tubuh.
Dengan demikian, jumlah protein yang dianggap berlebihan bagi orang dengan gaya hidup sedenter belum tentu memiliki efek yang sama pada seseorang dengan aktivitas fisik tinggi.
Masa Pemulihan
Kebutuhan protein juga meningkat pada sejumlah kondisi ketika tubuh membutuhkan material untuk mendukung pembangunan dan perbaikan jaringan.
Ibu hamil serta orang yang sedang menjalani masa pemulihan setelah operasi atau sakit berat membutuhkan asupan protein yang mencukupi untuk mendukung berbagai proses biologis penting.
Mengurangi protein secara sembarangan pada kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan tubuh memenuhi kebutuhan nutrisi yang sedang meningkat.
Tinjauan ilmiah ini pada akhirnya memberikan perspektif bahwa kebutuhan nutrisi manusia tidak bersifat statis dan dapat berubah mengikuti usia, kondisi kesehatan, serta tingkat aktivitas fisik.
Protein tetap menjadi nutrisi vital bagi tubuh, tetapi manfaatnya tidak berarti akan selalu bertambah apabila dikonsumsi dalam jumlah semakin tinggi.
Bagi orang dewasa yang menghabiskan sebagian besar waktunya duduk dan minim aktivitas fisik, pola makan sangat tinggi protein berpotensi memberikan efek metabolik yang berbeda dibandingkan pada orang yang aktif berolahraga.
Temuan tersebut juga tidak dapat dijadikan alasan untuk menghindari protein karena tubuh tetap membutuhkan nutrisi tersebut untuk menjalankan berbagai fungsi penting.
Pendekatan yang lebih tepat bukan melakukan diet rendah protein secara ekstrem, melainkan menyesuaikan jumlah dan sumber protein dengan kebutuhan nyata tubuh berdasarkan usia, aktivitas fisik, serta kondisi masing-masing individu.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]