WAHANANEWS.CO, Jakarta - Psikolog mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), khususnya untuk aktivitas curhat atau berbagi masalah emosional.
Curhat secara berlebihan kepada AI dinilai berisiko memicu ketergantungan emosional dan menciptakan ilusi kedekatan yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental.
Baca Juga:
Suka Nyinyir di Medsos Tanda Gangguan Jiwa? Begini Kata Psikolog, Yuk Simak!
Psikolog Klinis Amanasa Indonesia, Salma Ghina Sakinah Safari, menjelaskan bahwa sistem AI pada dasarnya dirancang untuk merespons dengan empati dan memvalidasi perasaan pengguna.
Namun, menurutnya, validasi yang diberikan secara terus-menerus justru dapat memperkuat emosi negatif dan membentuk distorsi dalam cara individu memandang realitas.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memunculkan delusi tertentu, di mana pengguna mulai mempercayai asumsi atau pemaknaan yang belum tentu sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Baca Juga:
Tak Suka Hidup di Usia Tua, Peraih Nobel Ekonomi Daniel Kahneman Meninggal dengan Caranya Sendiri
"AI dirancang untuk memvalidasi, akhirnya dengan validasi-validasi tersebut, mereka meyakini validasi itu. Akhirnya mungkin banget menimbulkan delusi-delusi tertentu," ujar Salma seperti dilaporkan RRI, Senin 26 Januari 2026.
Salma menegaskan bahwa AI tidak memiliki kemampuan untuk memahami kompleksitas relasi dan dinamika emosi manusia secara utuh.
Respons yang bersifat otomatis dan berbasis pola dinilai berisiko memperkuat kesimpulan keliru yang telah terbentuk di dalam pikiran pengguna.