WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tak semua telur ayam yang tampak serupa di pasaran ternyata aman untuk dikonsumsi, karena sebagian di antaranya merupakan telur fertil yang sejatinya tidak diperuntukkan bagi meja makan masyarakat, Jumat (27/2/2026).
Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Niken Ulupi, mengingatkan bahwa telur ayam pedaging bibit atau telur fertil tidak boleh dikonsumsi maupun diperjualbelikan secara bebas di pasar umum.
Baca Juga:
Namanya Diseret Terkait Penangkapan Telur Ayam Tanpa Dokumen, Ini Tanggapan Bupati Nias Barat
“Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” tegas Prof. Niken, melansir Kompas, Sabtu (28/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara telur konsumsi dan telur fertil terletak pada proses pembentukannya di dalam tubuh ayam.
Telur konsumsi berasal dari ayam petelur komersial yang seluruhnya betina dan tidak mengalami proses pembuahan sehingga bersifat infertil serta relatif aman dikonsumsi dalam kondisi penyimpanan wajar.
Baca Juga:
Pemerintah Tambah Daging dan Telur ke dalam Bansos Bulan September hingga November 2024
Sebaliknya, telur fertil dihasilkan dari ayam betina yang telah dibuahi pejantan sehingga mengandung embrio yang berpotensi berkembang jika tidak disimpan dalam suhu rendah.
“Jika dibiarkan pada suhu ruang, embrio dapat berkembang sebagian dan membuat telur cepat busuk,” jelasnya.
Menurutnya, tujuan pemeliharaan ayam juga menentukan jenis produk yang dihasilkan karena ada ayam yang dikembangkan untuk produksi telur dan ada yang khusus untuk produksi daging.
Ia memaparkan bahwa ayam petelur komersial dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi setiap hari, sementara ayam pedaging seperti broiler komersial difokuskan untuk produksi daging dengan masa pemeliharaan singkat.
“Ayam broiler komersial hanya dipelihara singkat, sekitar lima minggu, lalu dipotong. Jadi ayam pedaging tidak sampai bertelur,” terang Prof. Niken.
Berbeda dengan broiler komersial, ayam pedaging bibit atau breeder broiler dipelihara untuk menghasilkan telur fertil yang nantinya ditetaskan menjadi anak ayam broiler dan bukan untuk dikonsumsi manusia.
Ia menegaskan bahwa meskipun kandungan gizi telur fertil seperti protein dan asam amino esensial tidak jauh berbeda dari telur konsumsi, faktor keamanan dan daya simpannya menjadi persoalan utama.
Telur fertil lebih rentan rusak karena adanya embrio hidup yang sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan sehingga membutuhkan penanganan khusus.
Selain itu, ia menambahkan bahwa peredaran telur fertil di pasar umum juga dapat mengganggu stabilitas harga telur konsumsi karena telur dari industri pembibitan seharusnya tidak masuk ke rantai distribusi umum.
Sebagai panduan bagi masyarakat, Prof. Niken memaparkan cara sederhana membedakan telur konsumsi dan telur fertil melalui warna kerabang, bentuk telur, serta penandaan atau kode produksi pada cangkang.
“Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat memilih telur yang aman, bergizi, dan sesuai peruntukannya,” pungkas Prof. Niken.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]