Kebijakan tersebut mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengingat jumlah kasus virus Nipah secara global masih tergolong terbatas.
“Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi sehingga masyarakat tidak boleh lengah. Kita berharap penyakit ini tidak masuk ke Indonesia, tapi sistem kesehatan harus tetap siap,” ucap Menkes Budi.
Baca Juga:
Kemenkes Temukan Satu dari Empat Remaja Alami Anemia dalam Program CKG Sekolah
Sejalan dengan upaya tersebut, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kondisi kesehatan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala infeksi saluran pernapasan yang berlangsung lama dan semakin memburuk.
Di sisi lain, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan virus Nipah.
Baca Juga:
Indonesia Luncurkan Jarum Suntik Halal Pertama dengan Teknologi E-Beam
Virus ini diketahui berasal dari kelelawar buah (genus Pteropodidae) dan dapat menular ke manusia melalui kontak tidak langsung, seperti air liur hewan yang menempel pada buah-buahan atau melalui hewan ternak.
“Mengingat kelelawar sering mengonsumsi buah langsung di pohon, residu air liur hewan tersebut bisa menjadi media penularan. Buah selalu cuci bersih, kalau itu ada kulitnya dikupas tuntas biasanya risikonya menjadi hampir nol,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dominicus Husada.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.