WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fenomena mengejutkan terungkap dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) setelah ratusan ribu anak usia sekolah di Indonesia tercatat mengalami tekanan darah tinggi, kondisi yang sebelumnya identik dengan orang dewasa dan lanjut usia.
Data skrining program CKG periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026 menunjukkan sebanyak 22,1 persen atau sekitar 663 ribu dari 4,8 juta anak yang diperiksa mengalami peningkatan tekanan darah di 48 ribu sekolah di seluruh Indonesia.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Binrohtal Personel Nasrani, Perkuat Integritas dan Pelayanan Humanis
“Waduh, anak-anak sudah darah tinggi ya? Fenomena baru ini,” kata Kepala Badan Komunikasi RI Muhammad Qodari kepada awak media di Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).
Temuan tersebut langsung menjadi perhatian serius pemerintah karena hipertensi pada usia dini berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih berat seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.
Diungkapkan Qodari, tanpa adanya program CKG, banyak gangguan kesehatan pada anak kemungkinan besar tidak akan terdeteksi sejak awal karena sebagian besar tidak menunjukkan gejala yang terlihat.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu Tekankan Tata Kelola Bersih dalam Rapat Dewan Pengawas Rumkit dr. Bratanata Jambi
“Kalau tidak ada CKG ini, kami tidak tahu. Ini harus dianalisis lebih dalam, kenapa anak-anak itu sudah mengalami tekanan darah tinggi,” ujarnya.
Program CKG sendiri dirancang untuk memperluas akses pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu yang belum terbiasa melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Pemeriksaan dilakukan melalui sekolah dengan dukungan puskesmas di berbagai daerah sehingga proses skrining bisa menjangkau lebih banyak siswa secara merata.
Selain hipertensi, program ini juga menemukan masalah kesehatan lain yang cukup tinggi pada anak usia sekolah.
Tercatat sebanyak 41 persen siswa mengalami gigi berlubang, sedangkan 8,6 persen anak ditemukan mengalami penumpukan kotoran telinga.
Namun demikian, kasus tekanan darah tinggi menjadi perhatian utama karena dinilai sebagai tren baru dengan risiko kesehatan jangka panjang yang bisa memengaruhi kualitas generasi muda Indonesia di masa depan.
Sejak diluncurkan pada 2025, program CKG telah menjangkau lebih dari 100 juta penduduk Indonesia meski angka tersebut baru mencakup sekitar sepertiga dari total populasi nasional.
Menurut Qodari, hasil skrining ini harus menjadi alarm besar bagi pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk memperkuat edukasi pola hidup sehat sejak usia dini.
“Pemeriksaan rutin di lingkungan sekolah dan kesadaran hidup sehat harus diperkuat agar kasus seperti ini tidak terus meningkat,” katanya.
Berdasarkan rangkuman berbagai sumber kesehatan, hipertensi pada anak dapat dipicu oleh kombinasi faktor gaya hidup, kondisi medis, hingga faktor keturunan.
Konsumsi makanan tinggi garam dan lemak disebut menjadi salah satu pemicu utama karena natrium dapat meningkatkan retensi cairan yang membuat pembuluh darah menyempit.
Kurangnya aktivitas fisik juga memperburuk kondisi karena jantung menjadi kurang efisien dalam memompa darah ke seluruh tubuh.
Di sisi lain, obesitas menjadi faktor risiko serius lantaran tubuh membutuhkan suplai oksigen lebih besar sehingga tekanan pada dinding arteri meningkat.
Stres berkepanjangan pada anak dan remaja juga mulai dianggap sebagai faktor yang ikut memicu kenaikan tekanan darah akibat meningkatnya denyut jantung dan penyempitan pembuluh darah.
Kondisi medis seperti diabetes dan penyakit ginjal turut berpengaruh terhadap kestabilan tekanan darah karena berkaitan dengan hormon dan sistem aliran darah dalam tubuh.
Riwayat keluarga dengan hipertensi juga dapat meningkatkan risiko anak mengalami kondisi serupa sejak usia dini.
Selain itu, sejumlah jenis obat tertentu seperti obat flu maupun pereda nyeri diketahui bisa memicu peningkatan tekanan darah apabila digunakan secara berlebihan atau tanpa pengawasan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]