Mereka membawakan aneka sayur, lauk pauk dan juga buah tiap harinya.
"Manfaatnya dobel. Tidak hanya untuk ibu hamil dan balita stunting, tapi juga menopang perekonomian ibu-ibu Laskar Sakina. Karena dagangan mereka semakin laku," ujar Ipuk.
Baca Juga:
Berikut 5 Tips Hilangkan Bau Asap Rokok di Rumah
Gagasan gotong royong dan memberikan dampak positif turunan dari public health yang dilakukan oleh Pemkab Banyuwangi tersebut mendapatkan berbagai apresiasi dari civitas akademika Harvard Medical School.
Di antaranya dari Profesor Byron Joseph Good, guru besar antropologi medis pada program Department of Global Health and Social Medicine Harvard University.
"Ini sangat menarik. Banyuwangi dapat menggerakkan warga untuk ikut berpartisipasi dalam permasalahan publik. Sehingga, dampaknya bisa sangat dirasakan,” kata Profesor Byron Joseph Good.
Baca Juga:
Berikut Tips untuk Menambah Berat Badan
Apa yang dilakukan oleh Banyuwangi tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah mahasiswa yang hadir.
Mereka antusias bagaimana kiat Banyuwangi melibatkan para penjual sayur untuk terlibat dalam aktivitas deteksi dini risiko stunting dan risiko kehamilan tinggi.
"Kami sengaja melibatkan para penjual yang sebagian besar adalah perempuan, karena mereka mudah berempati terhadap permasalahan anak dan kehamilan. Jadi setiap permasalahan, kami identifikasi solusi apa yang sekiranya pas untuk memecahkan masalah yang ada," kata Ipuk menjelaskan.