"Mungkin pas jalan-jalan seneng pas pulang ada masalah lagi, tapi kalau proses healing tadi bertemu dengan diri kita, kita melakukan refleksi diri. Kita jujur dengan diri kita sendiri sebenarnya apa sih apa yg kita rasakan apa sih yang terjadi pada saya apa sih yg membuat saya terluka," ucapnya.
Lanjut Nirmala, merefleksikan diri merupakan proses untuk melepaskan luka-luka yang terjadi dalam diri. Nantinya seseorang akan siap kembali menghadapi kehidupan yang terus berjalan.
Baca Juga:
Jelajahi Air Terjun Proklamator, Wisata Alam yang Ada di Sumatra Barat
"Kembali ke alam mungkin itu yang di-show card-kan dengan mikir healing itu cukup melihat yang hijau-hijau, healing cukup jalan ke pantai enggak sesimpel itu. Saya melihat ada kesalahkaprahan dalam mendefinisikan healing sebenarnya," ujar Nirmala.
Nirmala juga menyatakan traveling atau jalan-jalan ke alam terbuka hanya membantu untuk mengistirahatkan diri dari situasi pekerjaan yang padat. Namun bukan untuk proses pemulihan mental jangka panjang.
Proses dan teknik healing memiliki tiga hal yang perlu diakses. Ketiganya adalah level kognisi, level emosi, dan level perubahan perilaku.
Baca Juga:
Berikut 8 Tanda Inner Child Sudah Pulih, Salah Satunya Dapat Mengenali Diri sendiri
Level tersebut membutuhkan cara penyembuhan yang berbeda. Untuk level kognisi, seseorang bisa melakukan konseling, coaching, mendengar motivator, dan membaca kata-kata motivasi.
Kemudian level emosi, seseorang harus melalui proses khusus dengan ahli. Sedangkan pada level perubahan perilaku, ada upaya tertentu yang perlu untuk dilakukan. Nirmala menambahkan, jika proses healing tidak dilaksanakan maka akan ada isu yang tak terselesaikan.
"Kalau healing tidak terlaksana bisa dibilang kita punya isu yang tak selesai-selesai dan ini bisa terbawa sampai tua bahkan bisa diturunkan ke anak-anak," jelas Nirmala.