WAHANANEWS.CO, Jakarta - Masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap berbagai sinyal yang diberikan tubuh, terutama ketika mengalami nyeri yang berlangsung dalam waktu lama.
Keluhan nyeri yang terus muncul dan tidak kunjung membaik tidak boleh dianggap sebagai kondisi biasa karena dapat menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis.
Baca Juga:
5 Buah yang Efektif Menurunkan Asam Urat dan Mencegah Kambuh
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, I Made Yudi Mahardika, menegaskan bahwa nyeri merupakan mekanisme alami tubuh untuk memberi peringatan bahwa terdapat masalah pada bagian tertentu yang perlu diperhatikan.
Karena itu, kesadaran terhadap perubahan kondisi tubuh menjadi langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan.
“Pertama kita harus sadar ya untuk semua yang terjadi di tubuh kita. Nyeri itu adalah suatu sensasi yang merupakan suatu sinyal. bahwa terjadi sesuatu di badan kita,” ucapnya dalam Press Conference 'Symposium Orthovolution Siloam Hospitals Mampang 2026' di Park Hyatt, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.
Baca Juga:
WHO Soroti Ledakan Kasus Kolera di 31 Negara, Dorong Akses Air Bersih dan Vaksinasi
Menurut Yudi, banyak orang masih cenderung mengabaikan rasa nyeri dan memilih melakukan pengobatan mandiri atau terapi tradisional tanpa mengetahui penyebab utamanya.
Padahal, apabila nyeri berlangsung selama satu hingga dua minggu dan tidak menunjukkan perbaikan, kondisi tersebut perlu mendapatkan evaluasi medis lebih lanjut.
“Jadi jangan pernah menyepelekan suatu nyeri yang, terutama nyeri yang bertahan 1-2 minggu, sudah minum obat, sudah paling awal mesti pijet. Nggak membaik nih, nah itu wajib sekali untuk dievaluasi,” kata Yudi.
Ia menjelaskan bahwa tujuan pemeriksaan medis bukan semata-mata untuk menghilangkan rasa sakit yang dirasakan pasien.
Lebih dari itu, dokter akan berupaya mengidentifikasi sumber permasalahan yang menjadi penyebab utama munculnya nyeri sehingga penanganan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran.
Menurut Yudi, kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan tulang dan sendi masih relatif rendah dibandingkan pemeriksaan kesehatan lainnya.
Selama ini, masyarakat lebih familiar melakukan pemeriksaan kolesterol, asam urat, gula darah, maupun pemeriksaan kesehatan umum secara berkala.
Sementara itu, pemeriksaan kondisi tulang, sendi, dan lutut sering kali baru dilakukan ketika keluhan sudah cukup berat.
Dalam kasus gangguan lutut, Yudi menjelaskan bahwa tindakan penggantian sendi lutut umumnya diperuntukkan bagi pasien lanjut usia, khususnya mereka yang berusia di atas 65 tahun.
Pada kelompok usia yang lebih muda, dokter biasanya akan melakukan evaluasi menyeluruh untuk menentukan penyebab kerusakan atau nyeri pada lutut sebelum memutuskan tindakan yang paling sesuai.
“Karena penggantian sendi lutut itu biasanya kita gunakan pada pasien di atas umur 65 tahun. Karena pasien itu akan implantasi awet, aktivitasnya juga lebih bisa kita takar,” ujarnya.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter dapat melakukan berbagai pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen hingga magnetic resonance imaging (MRI) apabila diperlukan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter melihat kondisi struktur tulang, sendi, tulang rawan, maupun jaringan lunak di sekitar area yang mengalami keluhan.
Yudi menekankan bahwa masyarakat sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila nyeri tidak kunjung membaik meskipun sudah beristirahat atau mengonsumsi obat.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama apabila nyeri disertai gejala lain seperti pembengkakan yang menetap, keterbatasan gerak, atau gangguan aktivitas sehari-hari.
Dengan deteksi dan penanganan yang lebih dini, berbagai gangguan pada tulang dan sendi dapat ditangani lebih efektif sehingga risiko kerusakan yang lebih berat maupun penurunan kualitas hidup pasien dapat diminimalkan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]