WAHANANEWS.CO, Jakarta - Olahraga ternyata bukan hanya membuat tubuh anak lebih bugar, tetapi juga berpotensi mengerek kemampuan berpikir mereka secara nyata.
Sebuah penelitian terbaru yang dikutip dari PsyPost pada Senin (22/6/2026) menunjukkan aktivitas fisik dapat meningkatkan kecerdasan atau Intelligence Quotient pada anak-anak dan remaja.
Baca Juga:
Wanita Tewas di Tambora, Suami Siri Ditangkap Polisi Usai Anak Korban Mengadu ke Tetangga
Temuan ini memperkuat bukti ilmiah bahwa kebiasaan bergerak aktif memiliki hubungan dengan perkembangan kognitif pada usia muda.
Para peneliti menilai olahraga dapat menjadi strategi sederhana dan mudah diterapkan untuk membantu anak berpikir, belajar, mengingat, serta memecahkan masalah dengan lebih baik.
Studi tersebut menemukan adanya peningkatan rata-rata 4 poin dalam skor IQ pada peserta yang mengikuti intervensi olahraga.
Baca Juga:
OJK Batasi Layanan Paylater, Ekonom INDEF: Pelindungan Konsumen Bakal Makin Kuat
Hasil itu memperlihatkan bahwa aktivitas fisik tidak hanya penting bagi kesehatan tubuh, tetapi juga berperan dalam membentuk kemampuan otak selama masa kanak-kanak dan remaja.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa olahraga bermanfaat bagi fungsi kognitif seperti memori, perhatian, dan fungsi eksekutif.
Namun, hubungan khusus antara olahraga dan kecerdasan umum, termasuk IQ, selama ini dinilai masih belum banyak dieksplorasi.
Para peneliti melihat masa kanak-kanak dan remaja sebagai periode penting bagi plastisitas otak karena pengalaman pada fase tersebut dapat memberi dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan kognitif dan saraf.
Dengan mengetahui apakah olahraga berdampak langsung pada kecerdasan, para peneliti berharap hasil studi ini dapat menjadi masukan bagi kebijakan pendidikan dan mendorong aktivitas fisik masuk lebih kuat dalam kurikulum sekolah.
Penulis utama penelitian, Javier Morales, Peneliti Pasca Doktoral Ramón y Cajal di Universitas Almería sekaligus salah satu direktur Fissac, mengatakan ketertarikan timnya pada topik ini berangkat dari berkembangnya bukti ilmiah tentang hubungan olahraga dan perkembangan otak.
"Ketertarikan kami pada topik ini berawal dari semakin banyaknya bukti, termasuk karya sebelumnya oleh Francisco B Ortega, Kirk I Erickson, dan Óscar Martínez-de-Quel tentang hubungan antara aktivitas fisik dan perkembangan kognitif pada anak muda," kata Morales.
Morales menjelaskan bahwa tim peneliti ingin melihat olahraga sebagai alat yang praktis dan mudah dijangkau untuk mendukung tumbuh kembang anak.
"Dengan mengeksplorasi potensi olahraga sebagai alat untuk meningkatkan kecerdasan, kami bertujuan untuk memberikan wawasan tentang strategi praktis dan mudah diakses untuk mendukung perkembangan anak," tambahnya.
Para peneliti menggunakan metode meta-analisis dengan menggabungkan dan menganalisis secara statistik hasil dari sejumlah penelitian sebelumnya.
Dalam studi ini, data yang dianalisis berasal dari 14 uji coba terkontrol acak dengan total 3203 peserta.
Menurut para peneliti, aktivitas fisik dapat memberi dampak positif terhadap fungsi otak melalui beberapa mekanisme biologis.
Olahraga dinilai dapat meningkatkan aliran darah ke otak, merangsang pertumbuhan sel saraf baru, serta memperkuat koneksi antarbagian otak yang berkaitan dengan proses belajar dan memori.
Temuan penelitian menunjukkan intervensi olahraga memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kecerdasan.
Efek positif tersebut terlihat pada berbagai subkelompok, termasuk anak-anak dengan tingkat IQ dasar normal maupun rendah.
Hasil positif juga tetap konsisten meskipun durasi intervensi olahraga yang dijalankan dalam tiap studi berbeda-beda.
Para peneliti turut menemukan manfaat signifikan pada kecerdasan fluid, yakni kemampuan berpikir logis dan memecahkan persoalan baru tanpa terlalu bergantung pada pengetahuan yang sudah dipelajari sebelumnya.
Sementara itu, bukti terkait peningkatan kecerdasan kristalisasi masih terbatas, meskipun satu studi melaporkan adanya peningkatan pada anak-anak dengan obesitas.
"Poin pentingnya adalah olahraga teratur tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan fisik tetapi juga berkontribusi pada perkembangan kognitif, khususnya peningkatan kecerdasan termasuk kecerdasan umum dan kecerdasan fluid," kata Morales kepada PsyPost.
Morales menyebut program olahraga mampu meningkatkan skor kecerdasan anak-anak dan remaja rata-rata 4 poin.
"Secara konkret, program olahraga meningkatkan skor kecerdasan anak-anak dan remaja rata-rata 4 poin hasil yang sebanding dengan peningkatan yang biasanya dicapai melalui tambahan satu tahun pendidikan," paparnya.
Menurut Morales, hasil tersebut berarti dorongan kepada anak-anak dan remaja untuk mengikuti aktivitas fisik terstruktur dapat memberi pengaruh positif jangka panjang bagi kemampuan intelektual mereka.
Ia juga melihat manfaat tersebut dapat menjangkau bidang lain dalam kehidupan anak, termasuk kebahagiaan, peluang sosial ekonomi, dan kesehatan masa depan.
Yang penting, efek olahraga terhadap kemampuan kognitif tidak dipengaruhi oleh usia peserta maupun durasi intervensi.
Hal itu menunjukkan bahwa manfaat aktivitas fisik berlaku cukup luas pada berbagai tahap perkembangan anak dan remaja.
"Salah satu temuan yang mengejutkan adalah konsistensi manfaat di berbagai kelompok usia, tingkat kecerdasan dasar, dan durasi intervensi," ungkap Morales.
Morales mengatakan anak-anak dengan kecerdasan dasar yang lebih rendah juga mengalami peningkatan signifikan setelah mengikuti intervensi olahraga.
"Sangat penting untuk dicatat bahwa anak-anak dengan kecerdasan dasar yang lebih rendah juga mengalami peningkatan yang signifikan, menunjukkan bahwa olahraga dapat berfungsi sebagai intervensi yang inklusif dan efektif untuk beragam populasi," ungkap Morales.
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini tetap memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu diperhatikan.
Salah satu tantangan utama adalah keberagaman program latihan yang dianalisis dalam studi tersebut.
Intervensi olahraga yang diteliti memiliki variasi dalam jenis, intensitas, durasi, dan frekuensi sehingga para peneliti belum dapat memastikan karakteristik program yang paling optimal untuk meningkatkan manfaat kognitif.
Aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat terlihat bermanfaat, tetapi masih terlalu sedikit penelitian yang melaporkan intensitas latihan secara rinci untuk menarik kesimpulan yang pasti.
"Keterbatasan utama adalah variabilitas dalam jenis dan intensitas program latihan yang dipelajari, yang menyulitkan untuk menentukan intervensi yang paling efektif," kata Morales.
Morales mengatakan penelitian lanjutan tetap dibutuhkan untuk memahami mekanisme yang melandasi hubungan olahraga dan kecerdasan.
"Selain itu, meskipun manfaatnya jelas, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasarinya dan untuk mengeksplorasi hasil jangka panjang di luar durasi intervensi," katanya.
Para peneliti juga ingin mengidentifikasi karakteristik program olahraga yang paling tepat untuk mendukung kecerdasan dan domain kognitif lain.
"Tujuan jangka panjang kami termasuk mengidentifikasi karakteristik optimal dari program olahraga seperti jenis, durasi, frekuensi, dan intensitas untuk meningkatkan kecerdasan dan domain kognitif lainnya," jelas Morales.
Morales mengatakan temuan tersebut nantinya diharapkan dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi praktis bagi sekolah dan komunitas.
"Kami juga bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana temuan ini dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi praktis bagi sekolah dan komunitas untuk mengintegrasikan olahraga sebagai komponen inti dari pendidikan dan perkembangan anak-anak," terangnya.
Pada akhirnya, para peneliti berharap olahraga dipandang sebagai bagian penting dari perkembangan anak, bukan hanya kegiatan tambahan di luar pelajaran akademik.
"Temuan kami menyoroti pentingnya menjadikan olahraga sebagai prioritas bagi anak-anak dan remaja, tidak hanya untuk kesehatan fisik tetapi juga untuk perkembangan kognitif dan emosional," ujarnya.
Morales berharap hasil penelitian ini mendorong pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua membangun lingkungan yang lebih ramah terhadap gaya hidup aktif sejak usia dini.
"Kami berharap penelitian ini menginspirasi para pembuat kebijakan, pendidik, dan orang tua untuk menciptakan lingkungan yang mendorong gaya hidup aktif sejak usia dini," ujarnya.
Temuan ini menjadi kabar penting bagi orang tua dan pendidik karena aktivitas fisik yang teratur dapat menjadi jalan sederhana untuk mendukung kesehatan tubuh, kemampuan belajar, dan perkembangan kecerdasan anak secara bersamaan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]