WAHANANEWS.CO, Jakarta - Perusahaan farmasi global Takeda Pharmaceutical Company, bersama International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) dan Palang Merah Indonesia (PMI) resmi meluncurkan aliansi United Against Dengue sebagai langkah memperkuat upaya pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Inisiatif ini menekankan pentingnya kemitraan lintas sektor untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman dengue yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan serius di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga:
Ketua Umum DPP Garpu Pietra M Paloh Kunker ke Jambi, sosialisasi dengan BTN Hingga buka bersama
Melalui kolaborasi ini, berbagai pihak diharapkan dapat bekerja sama dalam memperkuat upaya pencegahan, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memperluas intervensi kesehatan berbasis komunitas.
Peluncuran program tersebut merupakan tindak lanjut dari kemitraan regional United Against Dengue yang sebelumnya diperkenalkan pada Juni 2025 di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia menjadi negara pertama yang mengaktifkan inisiatif ini di tingkat nasional dengan pendekatan berbasis masyarakat, sehingga diharapkan dapat menjadi model bagi negara lain dalam upaya pengendalian dengue.
Baca Juga:
Walikota Binjai Terima Audiensi Pengurus Palang Merah Indonesia , Ucapkan Selamat atas terbentuknya Kepengurusan yang baru
“Takeda berkomitmen melawan DBD. Melalui kemitraan publik dan swasta mendukung target nol kematian dengue 2030,” ujar Andreas Gutknecht, Jumat, 13 Maret 2026.
Penyakit demam berdarah dengue masih menjadi ancaman kesehatan global yang serius. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pada 2024 tercatat sekitar 14,6 juta kasus dengue di seluruh dunia dengan lebih dari 12.000 kematian.
Sementara di Indonesia, data BPJS Kesehatan mencatat sebanyak 1.055.255 kasus rawat inap akibat dengue sepanjang tahun 2024.
Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, dengue juga menimbulkan beban ekonomi yang cukup besar.
Kerugian ekonomi akibat penyakit ini diperkirakan mencapai hampir Rp3 triliun setiap tahunnya.
Oleh karena itu, aliansi United Against Dengue hadir untuk memperkuat berbagai upaya pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan, serta mendorong implementasi intervensi kesehatan yang lebih efektif di tingkat masyarakat.
Program ini mengedepankan kolaborasi multisektor dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah serta inovasi untuk menekan penyebaran dengue.
Melalui kerja sama yang melibatkan pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, hingga masyarakat, berbagai strategi pencegahan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terpadu.
IFRC bersama para mitra juga berupaya menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari lembaga pemerintah, organisasi kemanusiaan, sektor swasta, hingga komunitas lokal.
Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi serta memperluas jangkauan program pencegahan dengue di berbagai daerah.
Ketua Bidang Kesehatan PMI, Fachmi Idris, menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menghadapi ancaman penyakit menular seperti dengue.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan masyarakat sekaligus memperluas dampak program kesehatan yang dijalankan.
Upaya tersebut juga sejalan dengan strategi nasional pengendalian dengue yang dijalankan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dalam implementasinya, PMI berperan sebagai mitra pemerintah yang membantu memperkuat pelaksanaan berbagai program kesehatan di tingkat masyarakat.
Organisasi ini juga aktif melakukan edukasi, kampanye pencegahan, serta pemberdayaan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran dengue.
Peluncuran inisiatif ini turut dihadiri oleh sejumlah perwakilan kementerian dan lembaga, di antaranya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, **World Health Organization Indonesia, serta **Koalisi Bersama Lawan Dengue (KOBAR).
Secara keseluruhan, United Against Dengue merupakan bentuk kolaborasi regional di kawasan Asia-Pasifik yang bertujuan memperkuat upaya pencegahan dan pengelolaan dengue secara berkelanjutan.
Inisiatif ini juga mendukung target global yang dicanangkan oleh WHO dan negara-negara ASEAN untuk menurunkan angka kematian akibat dengue yang sebenarnya dapat dicegah pada tahun 2030.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]