Meski demikian, sebagian besar DNA yang dimakan dipecah oleh sistem pencernaan kita dan hanya sejumlah kecil DNA yang terfragmentasi lalu masuk ke aliran darah serta organ.
Dilansir dari laman edukasi Harvard pada 2015, setelah 20 tahun penelitian dan pemantauan pada makanan rekayasa genetik, seluruh kekhawatiran tentang dampak kesehatan makanan rekayasa genetik tidak terbukti.
Baca Juga:
Belasan Nakes Pilih Tetap Bekerja Meski Tanpa Digaji Usai Dipecat Bupati Taput, Ini Alasannya
Salah satu contohnya adalah klaim dari kelompok advokasi anti-GMO yang menyatakan Institute for Responsible Technology (IRT), yang melaporkan bahwa tikus yang diberi diet yang mengandung kentang transgenik semua sistem organnya terpengaruh.
IRT menyatakan bahwa toksisitas adalah hasil dari teknik modifikasi genetik dan bukan kasus khusus untuk kentang tertentu.
Mereka mengklaim proses pembuatan transgenik menyebabkannya menjadi racun, dan dengan demikian semua transgenik berisiko tinggi untuk keracunan.
Baca Juga:
Hadir di Indonesia, BrainEye Bakal Jadi Solusi Kesehatan Otak Berbasis Teknologi AI
Soal gagasan bahwa tanaman atau buah yang dimodifikasi gennya menjadi tidak stabil dan menyebabkan kerusakan, Megan L. Norris, kandidat Ph.D Molecular, Cellular, and Organismal Biology Program di Harvard University, membantahnya.
Mutasi pada DNA terkait erat dengan kanker dan penyakit lain, dan dengan demikian zat mutagenik dapat memiliki efek mengerikan pada kesehatan manusia.
Penjelasan Mutasi Buah