WHO mengatakan pertama kali menyadari kekhawatiran tentang produk tersebut pada bulan Maret 2023.
Dan negara-negara termasuk Nigeria mengeluarkan peringatan yang memperingatkan orangtua untuk menghindari sirup obat batuk pada bulan April 2023, setelah dikaitkan dengan kematian 6 anak.
Baca Juga:
Lima Negara Kritis, WHO Serukan Bantuan Mendesak untuk Layanan Kesehatan
Tetapi sampel obat baru tersedia untuk WHO bulan lalu dan dianalisis di laboratorium pada 27 Juni.
Hasil tersebut menemukan tingkat dietilen glikol setinggi 28,6 persen di Naturcold, jauh lebih tinggi dari tingkat aman yang direkomendasikan sebesar 0,1 persen.
Pelarut kadang-kadang digunakan dalam sirup obat batuk sebagai alternatif yang lebih murah untuk propilen glikol, atau untuk mengatasi kekurangan bahan kelas medis.
Baca Juga:
Takeda, IFRC, dan PMI Luncurkan Aliansi United Against Dengue, Perkuat Upaya Cegah DBD di Indonesia
Tetapi dietilen glikol biasanya digunakan sebagai larutan antibeku untuk AC dan lemari es, dan bila dikonsumsi dapat memicu gejala termasuk muntah, diare, perubahan kondisi mental, cedera ginjal akut, dan akhirnya kematian.
Misteri sirup obat batuk beracun yang mematikan Penyelidik internasional yang menyelidiki keracunan fatal 300 anak kecil dengan sirup obat batuk yang terkontaminasi khawatir hal itu mungkin masih beredar di rantai pasokan global.
Pejabat kesehatan berlomba untuk menemukan bahan mematikan di balik skandal obat-obatan beracun terbesar dalam 17 tahun, tetapi otoritas India tidak main-main.