Sedangkan untuk PLTU dengan teknologi
biasa saja tanpa pengendalian emisi cenderung murah di US$ 0,05 per kWh hingga
US$ 0,06 per kWh dengan harga batubara di kisaran US$ 30 per ton hingga US$ 40
per ton.
Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas
Bumi (PLTP), dia mengakui harga investasi pengembangannya masih cukup mahal,
mengingat ada risiko tinggi pada eksplorasi.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
Ditambah lagi, eksplorasi juga perlu
didukung infrastruktur yang mahal serta biaya buka lahan.
Hitungannya, sekitar 40% capex
digunakan untuk biaya eksplorasi dengan kisaran US$ 3 juta hingga US$ 6 juta.
Belum lagi, dari satu proyek, tingkat
kesuksesan pengeboran hanya 30%, dengan biaya tahap eksplorasi bisa mencapai
US$ 30 juta dengan masa pengembangan 11 tahun hingga 13 tahun.
Baca Juga:
Tarif Listrik April 2025 Tidak Naik, Ini Alasannya!
"Perusahaan juga harus menunggu
sekitar 10 tahun baru bisa mendapatkan pay back, sehingga harga rata-rata untuk
PLTP berkisar US$ 0,08 kWh hingga US$ 0,12 kWh," paparnya.
Untuk capex teknologi Pembangkit
Listrik Tenaga Surya (PLTS), diungkapkan Fabby, sudah
mengalami penurunan sekitar 85% dari satu dekade yang lalu.
Dengan begitu, saat ini harga listrik
dari PLTS Atap untuk size sekitar
72.000 meter persegi bisa di bawah US$ 0,08 per kWh dan semakin besar akan semakin
murah lagi.