WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah pelaksanaan ibadah haji yang sarat dengan kekhusyukan dan doa di Tanah Suci, ancaman cuaca panas ekstrem menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Tingginya suhu udara di Makkah dan Madinah dinilai dapat berdampak langsung terhadap kondisi kesehatan jemaah, khususnya lansia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
Baca Juga:
Meski Berkursi Roda, 20 Jemaah Haji Asal Sumedang Tetap Khusyuk Jalani Ibadah di Tanah Suci
Kondisi cuaca yang sangat panas tidak hanya menyebabkan kelelahan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko serangan panas atau heatstroke yang dapat membahayakan keselamatan jemaah apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, Komisi VIII DPR RI meminta seluruh jemaah haji Indonesia meningkatkan kewaspadaan selama menjalankan rangkaian ibadah.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, mengingatkan pentingnya mematuhi arahan petugas kesehatan maupun petugas haji agar kondisi tubuh tetap terjaga di tengah suhu ekstrem yang melanda Arab Saudi selama musim haji berlangsung.
Baca Juga:
Kloter 29 KJT Asal Sumedang Mendarat Selamat di Jeddah, Suasana Penuh Syukur
“Jemaah juga harus mematuhi arahan petugas kesehatan dan petugas haji demi keselamatan bersama. Jangan memaksakan diri apabila kondisi tubuh kurang fit, karena kesehatan dan keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama agar ibadah berjalan lancar dan khusyuk,” ujar Dini dalam rilis yang diterima Parlementaria, di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Menurut Dini, menjaga kesehatan selama berada di Tanah Suci merupakan bagian penting dari ikhtiar dalam menjalankan ibadah haji.
Ia menilai masih banyak jemaah yang memaksakan diri beraktivitas di bawah terik matahari meskipun kondisi tubuh mulai menurun.
Padahal, paparan panas berlebih disertai dehidrasi dapat memicu heatstroke, yakni kondisi ketika suhu tubuh meningkat secara drastis akibat ketidakmampuan tubuh menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan yang sangat panas. Kondisi tersebut tergolong darurat medis dan membutuhkan penanganan cepat.
Heatstroke dapat menyerang siapa saja, terutama jemaah yang kelelahan atau kurang asupan cairan.
Gejalanya antara lain pusing, tubuh terasa lemas, mual, kulit memerah dan panas, hingga gangguan kesadaran.
Dalam kondisi yang lebih berat, heatstroke dapat mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani oleh tenaga medis.
Politisi Fraksi Partai NasDem itu juga mengimbau para jemaah agar disiplin menjaga daya tahan tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, serta mengatur aktivitas selama menjalankan ibadah haji.
“Perbanyak konsumsi air putih dan vitamin, serta menghindari aktivitas berlebihan di bawah terik matahari,” katanya.
Peringatan mengenai bahaya suhu panas ekstrem juga disampaikan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi melalui akun media sosial resminya.
Otoritas haji Arab Saudi meminta seluruh jemaah meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca panas yang terus meningkat di wilayah Tanah Suci.
Dalam imbauannya, jemaah dianjurkan untuk rutin mengonsumsi air putih tanpa harus menunggu rasa haus.
Selain itu, penggunaan pelindung seperti payung berwarna terang, topi, maupun perlengkapan pelindung lainnya juga disarankan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Jemaah pun diminta beristirahat secara berkala di tempat yang teduh atau memiliki pendingin udara agar kondisi tubuh tetap stabil selama menjalankan aktivitas ibadah.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai efektif mencegah kelelahan akibat suhu tinggi yang berpotensi berkembang menjadi gangguan kesehatan serius.
Imbauan tersebut menjadi pengingat bahwa ibadah haji tidak hanya membutuhkan kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik yang optimal.
Dengan kondisi cuaca ekstrem yang sulit dihindari, kedisiplinan menjaga kesehatan menjadi faktor penting agar seluruh rangkaian ibadah dapat dijalani dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
Melalui pola hidrasi yang baik, kewaspadaan terhadap gejala heatstroke, serta kepatuhan terhadap arahan petugas, diharapkan jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan terhindar dari risiko gangguan kesehatan selama berada di Tanah Suci.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]