Fenomena ini ditandai dengan mekanisme sesar naik yang memiliki arah relatif barat daya hingga timur laut, mencerminkan dinamika pergerakan lempeng dengan kemiringan ke arah tenggara.
"Mekanisme sesar naik tersebut telah menghasilkan deformasi lantai samudera dan memicu terjadinya tsunami yang terekam di beberapa stasiun pencatat pasang surut yang dimiliki oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) setinggi 20-75 cm," ujar Lana.
Baca Juga:
Gunung Dempo Berubah Bentuk Membesar Dalam Sepekan, Ini Kata Badan Geologi
Dari hasil laporan sementara di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, kerusakan yang terjadi umumnya ditemukan di daerah dengan kondisi tanah lunak atau batuan yang belum terkonsolidasi dengan baik.
Kondisi geologi seperti ini dinilai rentan terhadap dampak lanjutan gempa, seperti munculnya retakan di permukaan tanah, likuefaksi, hingga potensi pergerakan tanah.
Sementara itu, aktivitas gempa susulan masih terus berlangsung. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tercatat sebanyak 921 gempa susulan telah terjadi sejak gempa utama pada 2 April 2026.
Baca Juga:
Enam Gunung Api Berstatus Siaga dan Awas, Badan Geologi Peringatkan Bahaya Erupsi
Tingginya frekuensi gempa susulan ini menunjukkan bahwa kondisi seismik di kawasan tersebut masih aktif dan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu pekan untuk kembali stabil.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat yang berada di wilayah terdampak diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan.
Selain itu, warga juga diminta untuk mengikuti arahan dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, terutama yang berkaitan dengan potensi gempa susulan maupun ancaman tsunami.