WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis rekapitulasi kejadian bencana yang berlangsung dalam kurun waktu 28–29 Januari 2026.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, sejumlah peristiwa bencana tercatat terjadi di dua provinsi, yakni Jawa Barat dan Jawa Timur, dengan dampak yang dirasakan oleh ribuan warga.
Baca Juga:
Hari Keenam Operasi SAR, Tiga Korban Longsor Kembali Ditemukan di Bandung Barat
Di Provinsi Jawa Barat, hujan berintensitas tinggi yang disertai hembusan angin kencang memicu terjadinya banjir di Kelurahan Margadadi dan Desa Tambak, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu.
Bencana tersebut terjadi pada Selasa (27/1/2026) dan mengakibatkan genangan air di permukiman warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu melaporkan jumlah warga terdampak mencapai 2.724 jiwa.
Baca Juga:
BNPB Salurkan Dana Tunggu Hunian Tahap Pertama kepada 86 KK Terdampak Bansor di Aceh Tamiang
Dari jumlah tersebut, sebanyak 206 warga memilih melakukan evakuasi secara mandiri ke lokasi yang dinilai lebih aman.
Pemerintah daerah setempat telah menyiapkan tiga titik pengungsian untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pengungsi.
Dalam penanganan darurat, BPBD bersama unsur terkait melakukan sejumlah langkah cepat, di antaranya pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak serta upaya normalisasi saluran drainase guna mempercepat surutnya genangan air.
Hingga laporan ini disusun, kondisi banjir dilaporkan berangsur surut dengan tinggi muka air berkisar antara 30 hingga 90 sentimeter.
Selain Jawa Barat, bencana banjir juga terjadi di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Jember.
Ggenangan air saat banjir di Kabupaten Jember pada Rabu (28/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Jember]
Banjir melanda tiga kecamatan, yakni Kecamatan Patrang, Sumbersari, dan Kaliwates, pada Rabu (28/1/2026).
Ketinggian genangan air di wilayah tersebut dilaporkan berada pada kisaran 30 hingga 60 sentimeter.
BPBD Kabupaten Jember mencatat sebanyak 191 Kepala Keluarga (KK) terdampak akibat peristiwa tersebut.
Dampak kerugian materiil meliputi satu unit ruko, satu unit tempat kos, serta 191 unit rumah warga yang terendam banjir.
Meski demikian, tidak terdapat laporan warga yang mengungsi pada kejadian ini.
Pada Kamis (29/1/2026), genangan air di sejumlah titik di Kabupaten Jember terpantau mulai surut.
Warga membersihkan sisa genangan air pascabanjir di Kabupaten Jember pada Rabu (28/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Jember]
Namun, BPBD setempat tetap mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan dengan intensitas tinggi masih berpeluang terjadi.
Masih di Provinsi Jawa Timur, kondisi berbeda justru dialami wilayah Kabupaten Bondowoso.
Di tengah tingginya curah hujan yang menyebabkan banjir di beberapa daerah, Kabupaten Bondowoso dilaporkan mengalami kekeringan.
BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan air bersih bagi warga Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso yang dilanda kekeringan pada Rabu (28/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Bondowoso]
Kondisi ini dipicu oleh menurunnya intensitas curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, sehingga lahan persawahan tidak mendapatkan pasokan air yang cukup dan tanah menjadi kering.
Kekeringan tersebut terjadi di Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso, dan berdampak pada 149 Kepala Keluarga.
Sebagai langkah respons cepat, BPBD Kabupaten Bondowoso bersama pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan air bersih bagi warga Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso yang dilanda kekeringan pada Rabu (28/1/2026). [Foto: BPBD Kabupaten Bondowoso]
Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi selama musim hujan.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan akan kemungkinan bencana geologi seperti gempabumi yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
BNPB mendorong warga untuk menyiapkan tas siaga bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan serta rutin memantau informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]