WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kekhawatiran munculnya fenomena cuaca ekstrem “El Nino Godzilla” pada 2026 dipastikan tidak terbukti setelah BMKG menegaskan kondisi iklim global masih terkendali.
Pernyataan itu disampaikan oleh perwakilan BMKG pada Selasa (15/4/2026), yang memastikan hingga semester pertama tahun ini fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada dalam fase netral.
Baca Juga:
Menkes Ungkap Anomali BPJS, Masih Ada Orang Kaya Terima Bantuan PBI
Dijelaskan oleh Teguh Wardoyo dari Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, kondisi ENSO belum menunjukkan tanda-tanda menuju fase ekstrem.
“Memasuki semester kedua, ENSO berpotensi menuju El Nino lemah atau bahkan moderat dengan peluang sekitar 55 persen, terutama mulai periode Juni hingga Agustus,” katanya.
Fenomena ENSO sendiri merupakan interaksi kompleks antara laut dan atmosfer di wilayah Samudra Pasifik tropis yang memengaruhi pola cuaca global, termasuk Indonesia.
Baca Juga:
FBI-Polri Bongkar Jaringan Phishing Global, Nilai Penipuan Tembus Rp 342 Miliar
Memiliki tiga fase utama, ENSO terdiri dari El Nino, La Nina, dan Netral, yang masing-masing ditandai oleh perubahan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Pasifik tengah atau Nino 3,4.
Dijelaskan lebih lanjut, El Nino ditandai dengan anomali suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal, sedangkan La Nina menunjukkan kondisi sebaliknya dengan suhu yang lebih dingin.
“Jika suhu perairan Indonesia cukup dingin, El Nino dapat mengurangi curah hujan secara signifikan. Namun jika suhu perairan relatif hangat, dampaknya bisa tidak terlalu terasa,” katanya.
Di Indonesia, El Nino umumnya berdampak pada penurunan curah hujan, meskipun efeknya sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu laut di wilayah perairan nasional.
Sebaliknya, La Nina cenderung meningkatkan curah hujan, terutama jika suhu permukaan laut di Indonesia juga mengalami pemanasan.
Ditegaskan pula bahwa kekuatan El Nino diukur dari anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3,4 dengan klasifikasi tertentu mulai dari lemah hingga sangat kuat.
“BMKG tidak pernah merilis istilah El Nino Godzilla. Itu hanya istilah publik untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dengan anomali suhu lebih dari 2 derajat Celcius,” katanya.
Istilah populer tersebut merujuk pada kejadian El Nino ekstrem seperti yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015, namun bukan terminologi resmi lembaga meteorologi.
Dipastikan oleh BMKG, pada 2026 tidak ada indikasi menuju super El Nino, melainkan hanya potensi El Nino lemah yang mulai berkembang pada paruh kedua tahun.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah yang rawan kekeringan.
“Informasi perkembangan ENSO akan terus kami perbarui secara berkala agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi secara dini,” kata Teguh.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]