WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia beserta langkah-langkah penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah hingga Jumat (16/1/2026) pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan laporan tersebut, bencana hidrometeorologi basah masih menjadi jenis bencana yang paling dominan, seiring meningkatnya curah hujan di sejumlah wilayah Tanah Air.
Baca Juga:
Tinjau Lokasi Longsor Jepara, Kepala BNPB Pastikan Bantuan dan Pemulihan Berjalan Maksimal
Salah satu kejadian bencana tercatat di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berupa peristiwa tanah longsor yang terjadi pada Rabu (14/1/2026).
Longsor dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah dengan kondisi tanah labil, sehingga memicu pergerakan tanah di beberapa titik.
Akibat kejadian tersebut, sedikitnya enam desa yang tersebar di enam kecamatan terdampak, yakni Desa Ridogalih, Mekarsari, Sukamanah, Cikadu, Neglasari, dan Sukasirna.
Baca Juga:
BNPB Tinjau Banjir Kudus, Warga Harapkan Normalisasi Sungai Juwana
Dampak paling signifikan dirasakan di Kecamatan Gegerbitung, dengan total 31 kepala keluarga terdampak serta terganggunya sejumlah akses jalan yang menjadi jalur aktivitas warga.
Sebagai respons awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi telah mengerahkan tim reaksi cepat sejak Kamis (15/1/2026) untuk melakukan asesmen, pendataan, serta penanganan darurat di lokasi terdampak.
Hingga saat ini, BPBD setempat masih terus melakukan pemutakhiran data dari lapangan guna memastikan seluruh kebutuhan warga terdampak dapat tertangani.
Sementara itu, bencana banjir juga melanda wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Selasa (13/1/2026).
Tim BPBD Kabupaten Jember melakukan penanganan dan asssement saat banjir melanda Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, pada Selasa (13/1/2026). [Sumber foto: BPBD Kab. Jember].
Banjir yang disebabkan oleh meluapnya Kali Clutak tersebut mengakibatkan sebanyak 78 kepala keluarga di Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, terdampak hingga Kamis (15/1/2026).
Ketinggian muka air yang sempat mencapai sekitar 100 sentimeter kini berangsur surut dan berada di kisaran 40 sentimeter.
Sejalan dengan kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Jember telah menurunkan tim reaksi cepat ke lokasi kejadian serta menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak guna memenuhi kebutuhan dasar selama masa pemulihan.
Tim BPBD Kabupaten Jember melakukan penanganan dan asssement saat banjir melanda Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, pada Selasa (13/1/2026). [Sumber foto: BPBD Kab. Jember].
Cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, berupa angin puting beliung yang melanda Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, pada Kamis (15/1/2026).
Peristiwa ini menyebabkan 15 kepala keluarga terdampak, dengan rincian kerusakan meliputi lima unit rumah rusak berat, satu unit rusak sedang, dan 10 unit rumah rusak ringan.
Hingga kini, BPBD Kabupaten Situbondo masih melakukan pendataan lanjutan serta penanganan di lokasi kejadian.
Kondisi rumah yang mengalami rusak akibat diterjang angin puting beliung yang melanda Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, pada Kamis (15/1/2026). [Sumber foto: BPBD Kab. Situbondo].
Selain di Pulau Jawa, bencana banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.
Banjir dipicu oleh hujan deras yang menyebabkan jebolnya salah satu tanggul sungai, sehingga air merendam permukiman warga di Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan.
Sebanyak 77 kepala keluarga atau 259 jiwa dilaporkan terdampak akibat kejadian tersebut.
BPBD Kabupaten Lombok Barat bersama Tim Siaga Bencana Desa, TNI, Polri, dan aparat desa setempat segera melakukan asesmen serta evakuasi warga terdampak ke tempat yang lebih aman.
Hingga Kamis (15/1/2026), kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut dan warga mulai melakukan pembersihan rumah serta lingkungan dari sisa lumpur dan material banjir.
Di wilayah Sulawesi Tenggara, cuaca ekstrem berupa angin puting beliung yang disertai hujan lebat terjadi di Kabupaten Konawe Utara pada Senin (12/1/2026) sekitar pukul 18.15 WITA.
Kejadian ini berdampak pada 13 desa dan tiga kelurahan di empat kecamatan, dengan total warga terdampak mencapai 192 kepala keluarga atau 727 jiwa.
Kerugian material yang ditimbulkan cukup signifikan, di antaranya 14 unit rumah mengalami rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, serta 177 unit rumah rusak ringan.
BPBD Kabupaten Konawe Utara telah melakukan pendataan, penanganan darurat, serta menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak.
Hingga Kamis (15/1/2026), tim reaksi cepat masih berada di lapangan untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal.
Sementara itu, banjir juga melanda Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada Senin (12/1/2026).
Banjir yang disebabkan oleh luapan sungai akibat hujan dengan intensitas tinggi tersebut mengakibatkan sedikitnya 95 kepala keluarga terdampak, dengan 95 unit rumah terendam.
BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud merespons kejadian ini dengan melakukan pemantauan, evakuasi, serta pendataan warga terdampak. Pada Kamis (15/1/2026), banjir dilaporkan telah surut.
Menanggapi rangkaian bencana hidrometeorologi basah tersebut, BNPB mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca serta peringatan dini dari sumber resmi seperti BNPB, BMKG, dan pemerintah daerah.
Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama saluran air, serta menyiapkan perlengkapan darurat seperti dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan evakuasi.
BNPB juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi hujan lebat berkepanjangan atau kenaikan tinggi muka air, khususnya di lingkungan tempat tinggal.
Saat beraktivitas di luar ruangan dalam kondisi cuaca ekstrem, warga diimbau untuk menjauhi pohon besar dan bangunan yang berpotensi roboh.
Di sisi lain, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat sistem peringatan dini, memastikan kesiapan infrastruktur pengendalian bencana, serta meningkatkan koordinasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat.
Upaya edukasi publik, simulasi kesiapsiagaan, serta respons cepat saat kondisi darurat dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi keselamatan warga dan meminimalkan dampak bencana.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]