WAHANANEWS.CO, Jakarta - Memasuki pekan ketiga Januari, Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan laporan yang dihimpun sejak Kamis (22/1/2026) hingga Jumat (23/1/2026) pukul 07.00 WIB, bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian di lapangan.
Baca Juga:
Puluhan Desa Terendam, BNPB Imbau Waspada Ancaman Cuaca Ekstrem
Peristiwa pertama berupa banjir bandang yang melanda Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Bencana ini dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak 15 hingga 19 Januari.
Dampak banjir dirasakan di empat kecamatan, yakni Kecamatan Plampang, Empang, Tarano, dan Buer.
Baca Juga:
Rehab Rekon Dikebut, Tito Inspeksi Lokasi Bencana Aceh
Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kondisi terkini per Kamis (22/1/2026) banjir sudah mulai berangsur surut. [Sumber foto : BPBD Kabupaten Sumbawa].
Data sementara mencatat sebanyak 162 unit rumah mengalami kerusakan, serta satu fasilitas pendidikan turut terdampak.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD setempat segera bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan darurat.
Hingga Kamis (22/1/2026), kondisi air dilaporkan telah berangsur surut dan tim gabungan bersama warga melakukan gotong royong membersihkan sisa material banjir.
Sementara itu, banjir juga terjadi di Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Tangerang pada Senin (19/1/2026).
Dua wilayah terdampak meliputi Desa Kosambi, Kecamatan Kosambi, dan Desa Cikande, Kecamatan Jayanti.
Bencana ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia serta satu warga mengalami luka ringan.
Selain itu, sebanyak 239 unit rumah dilaporkan terdampak. Dalam rangka mempercepat penanganan dan pemulihan, Gubernur Banten menetapkan status tanggap darurat selama 90 hari, terhitung sejak 19 Desember 2025 hingga 19 Maret 2026.
Masih di Provinsi Banten, banjir juga menggenangi sejumlah wilayah di Kota Tangerang.
Curah hujan tinggi dengan durasi yang cukup lama menyebabkan air meluap dan masuk ke pemukiman warga.
Delapan kecamatan dilaporkan terdampak, yaitu Kecamatan Benda, Cibodas, Jatiuwung, Priuk, Karang Tengah, Pinang, Larangan, dan Cipondoh.
Sedikitnya 21 jiwa terpaksa mengungsi ke Pos Damkar Benda. Sementara itu, jumlah rumah terdampak masih dalam tahap pendataan.
Hingga Kamis (22/1/2026), debit air sungai dilaporkan masih mengalami kenaikan, sehingga BPBD bersama organisasi perangkat daerah terkait terus melakukan upaya penanganan darurat.
Banjir juga terjadi di Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kejadian dilaporkan berlangsung pada Kamis (22/1/2026) sekitar pukul 06.00 WITA, dengan dampak berupa genangan air di Desa Labuan Kenanga, Kecamatan Tambora.
Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat pada Kamis (22/1/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Bima].
Sebanyak 54 unit rumah warga terdampak akibat peristiwa tersebut. Koordinasi lanjutan terus dilakukan dengan dinas terkait untuk memastikan penanganan dan pendataan dampak.
Berdasarkan pantauan visual di lapangan, kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut.
Di wilayah yang sama, banjir turut melanda Kabupaten Lombok Barat pada Kamis (22/1/2026).
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sungai di belakang permukiman warga Dusun Presak, Desa Meninting, Kecamatan Batu Layar, meluap.
Secara geografis, wilayah Dusun Presak berada pada dataran yang lebih rendah dibandingkan jalan raya, sehingga rentan tergenang.
Sedikitnya 67 unit rumah warga terdampak. BPBD bersama tim gabungan segera melakukan kaji cepat serta penanganan awal di lokasi kejadian.
Selain bencana banjir, cuaca ekstrem juga dilaporkan melanda Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Peristiwa ini terjadi pada Selasa (20/1/2026) sekitar pukul 13.20 WIB dan berdampak pada Kecamatan Teras serta Kecamatan Mojosongo.
Akibat cuaca ekstrem tersebut, dua unit rumah mengalami kerusakan sedang dan delapan rumah lainnya rusak ringan.
BPBD setempat langsung melakukan penanganan darurat, termasuk pembersihan pohon tumbang dan normalisasi akses jalan yang sempat terganggu.
Menanggapi rangkaian kejadian bencana tersebut, BNPB mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, khususnya terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.
Warga yang bermukim di wilayah rawan banjir dan bantaran sungai diminta untuk rutin memantau ketinggian air.
Apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang panjang, masyarakat disarankan melakukan evakuasi mandiri, memahami jalur evakuasi, serta selalu memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]