WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak banjir dan longsor yang kini menempati hunian sementara (huntara) di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Kamis (26/2/2026).
Bantuan tersebut diberikan kepada sepuluh keluarga penyintas bencana yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
Baca Juga:
264 Huntara Rampung di Seunuddon, Pemulihan Ekonomi Masuk Tahap Berikutnya
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto bersama Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky kepada perwakilan warga.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos.,M.M. ( kemeja hijau dan rompi) berkesempatan berdialog dengan warga penerima hunian sementara (huntara ) yang berada di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026) malam.
Bantuan yang disalurkan terdiri atas 150 paket sembako serta perlengkapan rumah tangga berupa 600 lembar kasur matras dan masing-masing 150 unit kasur, kompor, karpet, serta kipas angin.
Baca Juga:
Cuaca Ekstrem Picu Bencana di Aceh hingga Kalimantan Utara
Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar para penghuni huntara, terutama dalam masa awal adaptasi di tempat tinggal sementara, sembari menunggu distribusi perabotan tambahan dari Kementerian Sosial.
Kepala BNPB menjelaskan bahwa warga yang telah menempati huntara tentu memerlukan perlengkapan pokok untuk mendukung aktivitas sehari-hari, mulai dari kebutuhan memasak hingga alas tidur yang layak.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos.,M.M. ( kemeja hijau dan rompi) berkesempatan berdialog dengan warga penerima hunian sementara (huntara ) yang berada di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026) malam.
“BNPB berinisiatif untuk memberikan barang-barang sementara, ada kasur, ada kompor, ada kipas angin, karena kalau siang panas sekali. Kemudian ada karpet dan ada matras,” ujar Letjen Suharyanto pada acara yang digelar di Desa Beusah Seberang, Peureulak Barat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga kembali mengingatkan masyarakat terkait kriteria kategori rumah rusak berdasarkan petunjuk pelaksanaan.
Salah satu indikator penentu adalah ketinggian lumpur yang mengendap saat bencana terjadi.
Rumah dengan timbunan lumpur setinggi 20 sentimeter hingga satu meter dikategorikan rusak ringan, sedangkan di atas satu meter termasuk kategori rusak sedang hingga berat.
Warga penerima huntara saat berbuka puasa di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026) malam.
“Di atasnya itu pasti rusak sedang dan rusak berat. Jadi yang belum masuk nggak usah kecil hati. Segera diajukan ulang,” lanjutnya.
Ia meminta warga yang merasa belum terdata dalam kategori kerusakan agar tidak berkecil hati dan segera mengajukan pendataan ulang melalui pemerintah desa setempat.
Terkait mekanisme pencairan bantuan dana perbaikan rumah rusak ringan dan sedang, Suharyanto mengimbau pihak perbankan agar memberikan kemudahan proses kepada masyarakat.
Skemanya, 80 persen dana dapat langsung dicairkan ke rekening penerima, sementara 20 persen sisanya dapat diambil setelah ada surat keterangan dari kepala desa atau geuchik yang menyatakan rumah telah dibersihkan atau diperbaiki.
Warga penerima huntara saat berbuka puasa di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026) malam.
“Dana 20 persen itu tetap menjadi hak warga. Hanya saja pencairannya menunggu konfirmasi bahwa perbaikan sudah dilakukan,” jelasnya.
Sebelum agenda penyerahan bantuan, Kepala BNPB bersama jajaran meninjau sejumlah unit huntara di Peureulak Barat dengan menggunakan sepeda motor untuk memastikan kondisi bangunan dan kesiapan huni.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim serta ditutup dengan buka puasa bersama warga.
epala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M (kemeja hijau dan rompi) bersama Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky saat meninjau hunian sementara insitu yang telah dihuni warga di wilayah Kabupaten Aceh Timur, pada Kamis (26/2/2026).
1.503 Unit Huntara Rampung Dibangun
Pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak bencana di Aceh Timur terus menunjukkan perkembangan signifikan.
Hingga Rabu (25/2/2026), sebanyak 1.503 unit huntara insitu yang dibangun BNPB telah selesai 100 persen dan siap dihuni.
Jumlah tersebut merupakan bagian dari total 2.437 unit huntara yang ditangani BNPB di wilayah terdampak.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos.,M.M. ( kemeja hijau dan rompi) berkesempatan berdialog dengan warga penerima hunian sementara (huntara ) yang berada di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026).
Selain unit yang telah rampung, sebanyak 243 unit masih dalam tahap penyelesaian dengan progres di atas 50 persen, sementara 691 unit lainnya berada pada progres di bawah 50 persen.
Huntara insitu dibangun di lokasi yang sama dengan rumah warga yang terdampak bencana, sehingga memudahkan masyarakat tetap berada di lingkungan asalnya selama masa pemulihan.
Secara keseluruhan, total huntara yang telah atau siap dihuni mencapai 1.722 unit.
Rinciannya terdiri atas 1.503 unit huntara insitu yang dibangun BNPB dan 219 unit huntara komunal atau 44 kopel yang dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Sebaran huntara insitu terbanyak berada di Kecamatan Pante Bidari sebanyak 941 unit, sedangkan paling sedikit di Kecamatan Indra Makmur sebanyak 2 unit.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M (kemeja hijau dan rompi) saat berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah dengan warga penerima huntara di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Kamis (26/2/2026) malam.
Pada Kamis (26/2/2026), Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto turut meninjau langsung sejumlah huntara yang telah ditempati warga, di antaranya di Kecamatan Simpang Ulim, Banda Alam, dan Idi Rayeuk.
Selain pembangunan huntara, BNPB juga menyalurkan skema bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat.
Tercatat sebanyak 432 kepala keluarga memilih skema tersebut.
Dari jumlah itu, 373 rekening penerima telah terbit dan proses distribusi buku rekening masih terus berlangsung.
BNPB memastikan percepatan penyediaan hunian sementara dan dukungan bantuan pemulihan tetap menjadi prioritas utama, agar masyarakat terdampak dapat segera menjalani kehidupan yang lebih aman dan layak selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]