Menurut Slamet, tingginya angka tersebut menjadi indikator bahwa persoalan pangan di Indonesia Timur tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan atau produksi pangan.
Lebih dari itu, persoalan distribusi, keterjangkauan harga, infrastruktur pendukung, hingga kemampuan masyarakat dalam memperoleh pangan bergizi menjadi tantangan yang perlu segera ditangani secara komprehensif.
Baca Juga:
Peringati Hari Lahir Pancasila, Pemko Binjai Teguhkan Komitmen Kebangsaan
Politisi Fraksi PKS tersebut juga menyoroti meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis komoditas pangan, yakni beras.
Padahal, wilayah Indonesia Timur memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang sangat beragam dan telah lama menjadi penopang kebutuhan pangan masyarakat setempat, seperti sagu, talas, berbagai jenis umbi-umbian, hingga pisang.
Ia menilai, pola konsumsi yang terlalu berfokus pada beras berpotensi meningkatkan kerentanan pangan, terutama ketika terjadi gangguan distribusi maupun lonjakan biaya logistik.
Baca Juga:
54 Paskibraka Sumedang 2025 Jalani Tugas Terakhir pada Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Siap Menjadi Duta Pancasila
Kondisi ini kerap menjadi persoalan yang dihadapi wilayah-wilayah kepulauan dan daerah terpencil di kawasan timur Indonesia.
Karena itu, Slamet mendorong adanya upaya nyata untuk menghidupkan kembali budaya konsumsi pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kearifan masyarakat.
Menurutnya, pangan lokal memiliki nilai strategis dalam memperkuat kemandirian pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah.