“Nah, jadi waktu saya duduk, jadi menteri, ada beberapa isu. Salah satu ini yang saya kaget, ‘loh ada gimnastik, kejuaraan dunia’. Terus saya kontak Persani, ‘ini ada Israelnya gak?’ ‘Ada’, ‘loh kok pemerintah gak diinfo?’ ‘Oh udah pak, tapi kan bapak bukan menterinya’,” ungkapnya dengan nada heran.
“Jadi udah sampai mana? Ya kan ‘mereka mau datang, pak’. Saya bilang ‘kalau menurut saya kurang bijak pada saat ini, karena situasinya dan landscape-nya berbeda dengan sebelum-sebelumnya, dan saya worry security issue (isu keamanan),” lanjutnya.
Baca Juga:
KONI Pusat dan Menpora Temui Atlet Kickboxing Korban Pelecehan Seksual, Tegaskan Dunia Olahraga Harus Bersih dari Kekerasan
Erick mengaku kekhawatirannya semakin besar karena situasi global saat itu masih memanas dan belum ada kepastian terkait keamanan usai pertemuan di PBB.
“Walaupun saya orang olahraga, saya IOC member, tapi saya tetap worry soal risiko keamanan,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PSSI itu.
Ia kemudian meminta induk olahraga senam Indonesia, Persani, untuk berkomunikasi langsung dengan Federasi Senam Israel agar situasinya lebih jelas.
Baca Juga:
Erick Thohir Tekankan Persatuan Stakeholder Olahraga di HUT ke-74 NOC Indonesia
Namun, keprihatinan Erick kian memuncak ketika mendengar bahwa Israel berencana membawa pasukan khusus bersenjata untuk menjaga atletnya selama kompetisi berlangsung di Jakarta.
“Terus akhirnya mereka rapat, si Persani dengan senam kalau gak salah, melontarkan isu, bahwa saya bilang saya tidak bermaksud mendiskriminasi,” ujarnya.
“Tetapi ketika permintaan si Israel bawa pistol, bawa ini keamanan khusus pada situasi seperti ini, saya bilang ‘saya melihat ya itu diskriminasi juga, dengan konteks seperti isu keamanan, konteks juga dinamic security yang berbeda, kan berarti spesial treatment, saya keberatan’,” pungkas Erick menegaskan.