Ia menilai, inisiatif seperti ini berpotensi mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
"Jika dikelola secara sistematis, sedekah sampah bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau. Ini sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan, di mana limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber daya," ungkapnya.
Baca Juga:
Dukung Pendidikan di Tengah Krisis, BAZNAS Dirikan Kelas Darurat di Gaza
Menurutnya, keberhasilan pengumpulan sekitar satu ton sampah pada pelaksanaan perdana menjadi indikator kuat bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh.
Hal ini juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis gotong royong masih sangat relevan dan efektif di tengah masyarakat.
Tohom juga mendorong agar program ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, dengan dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta.
Baca Juga:
Latih Otak dan Motorik, Pemerintah Hidupkan Lagi Kebiasaan Menulis di Sekolah
Ia menyebutkan pentingnya penguatan sistem agar gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik semata.
"Yang terpenting adalah keberlanjutan. Ketika gerakan ini bisa berjalan rutin dan terstruktur, maka dampaknya akan jauh lebih besar, baik bagi pendidikan anak-anak maupun bagi kualitas lingkungan hidup," tambahnya.
Ia berharap, semangat yang ditunjukkan pemuda Pelangwot dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di seluruh Indonesia untuk lebih aktif berkontribusi dalam pembangunan sosial dan lingkungan.