WAHANANEWS.CO, Jakarta – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif “sedekah sampah” yang digagas pemuda Muhammadiyah Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan.
Gerakan ini dinilai sebagai contoh nyata kolaborasi sosial berbasis lingkungan yang mampu menjawab persoalan pendidikan sekaligus pengelolaan sampah di tingkat akar rumput.
Baca Juga:
Dukung Pendidikan di Tengah Krisis, BAZNAS Dirikan Kelas Darurat di Gaza
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, mengatakan bahwa gerakan seperti ini mencerminkan kekuatan generasi muda dalam menghadirkan solusi kreatif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
"Apa yang dilakukan pemuda Pelangwot ini adalah bentuk kepemimpinan sosial yang lahir dari kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Ini bukan hanya kegiatan sosial biasa, tetapi embrio gerakan nasional jika direplikasi dengan baik," ujarnya, Senin (6/4/2026).
Ia menilai, konsep “sedekah sampah” memiliki nilai strategis karena menggabungkan aspek kepedulian sosial, ekonomi sirkular, dan edukasi lingkungan dalam satu gerakan sederhana namun efektif.
Baca Juga:
Latih Otak dan Motorik, Pemerintah Hidupkan Lagi Kebiasaan Menulis di Sekolah
Menurutnya, pendekatan seperti ini sangat relevan dengan tantangan masa depan yang menuntut inovasi berbasis komunitas.
"Gerakan ini menunjukkan bahwa solusi atas persoalan pendidikan tidak selalu harus bergantung pada skema besar dari atas. Justru dari desa, dari komunitas kecil, lahir model pemberdayaan yang konkret dan berkelanjutan," kata Tohom.
Lebih lanjut, Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan menegaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat merupakan kunci dalam menghadapi krisis lingkungan ke depan.
Ia menilai, inisiatif seperti ini berpotensi mengurangi beban lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
"Jika dikelola secara sistematis, sedekah sampah bisa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi hijau. Ini sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan, di mana limbah tidak lagi menjadi masalah, tetapi sumber daya," ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan pengumpulan sekitar satu ton sampah pada pelaksanaan perdana menjadi indikator kuat bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh.
Hal ini juga menunjukkan bahwa pendekatan berbasis gotong royong masih sangat relevan dan efektif di tengah masyarakat.
Tohom juga mendorong agar program ini dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia, dengan dukungan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta.
Ia menyebutkan pentingnya penguatan sistem agar gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan simbolik semata.
"Yang terpenting adalah keberlanjutan. Ketika gerakan ini bisa berjalan rutin dan terstruktur, maka dampaknya akan jauh lebih besar, baik bagi pendidikan anak-anak maupun bagi kualitas lingkungan hidup," tambahnya.
Ia berharap, semangat yang ditunjukkan pemuda Pelangwot dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di seluruh Indonesia untuk lebih aktif berkontribusi dalam pembangunan sosial dan lingkungan.
Sebelumnya, sejumlah pemuda Muhammadiyah Desa Pelangwot menginisiasi program “sedekah sampah” untuk membantu pembiayaan pendidikan anak-anak kurang mampu.
Program ini lahir dari diskusi sederhana para pemuda dan berhasil menarik partisipasi luas masyarakat, dengan total pengumpulan mencapai sekitar satu ton sampah pada pelaksanaan perdananya saat Hari Raya Idul Fitri.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]