Selain fokus pada pemulihan infrastruktur, BNPB juga menaruh perhatian besar terhadap aspek hunian bagi masyarakat terdampak bencana.
Penempatan huntara dirancang dengan mempertimbangkan tata ruang berbasis risiko bencana agar tidak kembali berada di kawasan rawan yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Baca Juga:
BNPB Laporkan Rentetan Bencana Hidrometeorologi Akibat Hujan Lebat dan Angin Kencang
Huntara yang dibangun juga dirancang untuk mendukung keberlanjutan layanan dasar masyarakat, seperti ketersediaan air bersih, sanitasi, dan lingkungan yang layak huni.
Pemulihan sektor perumahan dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun kembali ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.
Fasilitas penunjang huntara seperti akses air bersih, sanitasi dan listrik sudah siap digunakan di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Kams (5/2/2026).
Baca Juga:
Pergerakan Tanah di Tegal, 1.686 Warga dan Santri Mengungsi ke Lokasi Aman
BNPB menargetkan seluruh korban banjir tidak lagi tinggal di tenda pengungsian dan proses pemindahan ke huntara dapat rampung sebelum bulan Ramadhan.
Sebagian pengungsi akan menempati hunian sementara, sementara lainnya tinggal sementara di rumah keluarga atau kerabat.
Secara keseluruhan, pembangunan huntara di Kabupaten Aceh Utara direncanakan mencapai 2.449 unit.