Peminggiran sosial-politik terhadap kelompok-kelompok
lemah menjadi kisah murah sehari-hari.
Pada penampang semacam itu, kita masih terus melewati
tikungan-tikungan maut di ranah politik dan sosial.
Baca Juga:
Peringatan Irian Barat Kembali ke NKRI, Warga Kirab Merah Putih Disepanjang Jalan Kota Fakfak
Keindonesiaan kita sebagai kristalisasi pembangunan
negara-bangsa kian sering memperlihatkan paradoks sosial-politik.
Negara sebagai bagian dari institusionalisasi
nilai-nilai demokrasi tak hadir sebagai pendukung inklusivitas sosial.
Demokrasi kemudian berhadapan dengan kecenderungan homogenisasi
plus hegemonisasi sosial-politik yang meremukkan kepingan-kepingan kecil
keragaman sebagai entitas keindonesiaan kita.
Baca Juga:
Keempat Pulau Itu Milik Siapa? Presiden RI Beri Keputusan Mengejutkan!
Kita memang tak sedang berada dalam cangkang
romantisme masa lalu.
Pada kenyataannya, sebagaimana bangsa lain (Dinnen,
2007), kita berhadapan dengan dua sisi panggilan.
Pertama, panggilan politik.