"Nah, kenapa begitu? Ya mungkin diambil untuk menambeli dulu nyuap, Ketika ingin mendapatkan izin, dia nyuap. Ada satu titik Rp300 juta, Rp500 juta, akibatnya ini yang dirugikan penerima manfaat kan," lanjutnya.
Selain memberikan manfaat bagi siswa dan santri, Anwar mengatakan program MBG juga berkontribusi membuka lapangan kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Baca Juga:
Wali Kota Binjai Tinjau Progress Pembangunan Masjid dan Al-Quran Center Binjai
Menurutnya, keberadaan dapur-dapur penyedia makanan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Di saat yang sama, program tersebut juga menciptakan permintaan bagi pelaku usaha mikro dan petani, mulai dari produsen tempe, tahu, peternak ayam, hingga nelayan dan petani sayur.
"Program ini manfaat betul ya. Bukan hanya kepada santri dan pelajar, juga bermanfaat kepada orang-orang yang butuh pekerjaan sehingga mengurangi pengangguran," ujarnya.
Anwar juga menilai program tersebut turut mendorong perputaran uang di sektor perbankan karena banyak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memanfaatkan pembiayaan dari bank untuk menjalankan operasionalnya.
Baca Juga:
Ketua MUI Taput : Pahala Tertib Berlalu lintas Dukung Pemberlakuan Tilang Nonelektronik demi kenyamanan bersama
Karena manfaatnya yang luas, ia menolak wacana penghentian program MBG. Menurutnya, setiap kekurangan seharusnya diperbaiki, bukan dijadikan alasan untuk membubarkan program.
"Jadi di bawah itu berputar. Ngapain kok diberhentikan? Jangan dong, jangan dihentikan. Bahwa ada kekurangan, ada kesalahan, ya diperbaiki. Ada lumbung, ada tikus, ya tikusnya yang dipateni jangan lumbungnya dibakar," terangnya.
Ia juga meminta berbagai pihak menyampaikan kritik dan masukan melalui dialog yang konstruktif. Menurut dia, pemerintah terbuka menerima laporan terkait berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan.