WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menyerap aspirasi dari organisasi kepemudaan Karang Taruna di daerah pemilihannya, DKI Jakarta II.
Dalam pertemuan tersebut, para pemuda menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, terutama terkait semakin sulitnya akses terhadap lapangan pekerjaan yang dinilai kian terbatas dan tersegmentasi.
Baca Juga:
RUU Sisdiknas Usung Pengakuan Guru sebagai Profesi, Kesejahteraan Jadi Prioritas
Pertemuan yang berlangsung di Jakarta Selatan pada Jumat (1/5/2026) itu menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan pemuda.
Para anggota Karang Taruna mengungkapkan bahwa saat ini peluang kerja dinilai tidak merata, bahkan cenderung hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki relasi atau koneksi tertentu.
Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan generasi muda yang merasa tersisih dalam persaingan dunia kerja.
Baca Juga:
DPR Nilai Pendidikan Era Prabowo Alami Perubahan Signifikan, Tapi Tantangan Masih Berat
Selain itu, mereka juga menyoroti tingginya biaya pungutan yang kerap diminta kepada calon pekerja migran yang ingin bekerja di luar negeri.
Biaya tersebut dinilai memberatkan, terutama bagi pemuda dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
Menanggapi hal tersebut, Kurniasih mendorong para pemuda untuk lebih proaktif dalam meningkatkan kompetensi diri melalui pelatihan keterampilan yang memiliki sertifikasi resmi dan diselenggarakan oleh lembaga terpercaya.
Menurutnya, penguasaan keahlian menjadi faktor penting dalam menghadapi ketatnya persaingan kerja saat ini.
"Saya menyarankan kepada adik-adik untuk mengikuti pelatihan keahlian yang bersertifikat dari lembaga terpercaya. Ini penting agar nantinya bisa langsung bekerja sesuai dengan keahlian yang dimiliki," saran Kurniasih.
Ia menekankan bahwa pengembangan kapasitas diri harus dilakukan secara berkelanjutan melalui tiga pilar utama, yakni skilling, upskilling, dan reskilling.
Ketiganya dinilai sebagai strategi penting untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja muda di tengah perubahan kebutuhan industri.
"Ada tiga hal yang perlu dikuasai oleh anak-anak muda kita: skilling untuk belajar keterampilan baru, upskilling untuk meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dan reskilling untuk mempelajari keterampilan baru ketika ingin berganti profesi," jelasnya.
Terkait praktik pungutan biaya bagi pekerja migran, Kurniasih menegaskan bahwa hal tersebut tidak seharusnya terjadi jika proses dilakukan melalui jalur resmi.
Ia mengingatkan agar para pemuda tidak mudah tergiur oleh tawaran yang tidak jelas.
"Kalau melalui penyelenggara pekerja migran yang resmi, seharusnya tidak ada pungutan biaya. Jadi kalau ada yang minta bayaran mahal-mahal, itu ulah oknum. Harus hati-hati," tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memilih negara tujuan kerja di luar negeri.
Kurniasih menyebut sejumlah negara yang menurutnya rawan terhadap praktik perdagangan orang dengan modus penawaran pekerjaan.
"Untuk negara-negara seperti Malaysia, Kamboja, Filipina, Vietnam, saya kurang merekomendasikan karena di sana sering terjadi kasus perdagangan orang dengan modus tawaran kerja. Jadi lebih baik berhati-hati dan pilih negara tujuan yang lebih aman," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, anggota Karang Taruna juga berharap adanya dukungan nyata dari pemerintah dan wakil rakyat dalam pengembangan keterampilan pemuda di tingkat lokal.
Mereka mengusulkan penyelenggaraan kursus-kursus singkat yang lebih mudah diakses, seperti pelatihan bahasa Inggris yang saat ini sudah berjalan namun masih menghadapi kendala keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas.
Menanggapi aspirasi itu, Kurniasih menyatakan komitmennya untuk membantu mencarikan solusi dengan berkoordinasi bersama pengurus partai dan tim kerjanya.
Ia menilai program pelatihan berbasis komunitas memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.
"Untuk kebutuhan pengajar dan tempat kursus, InsyaAllah akan saya bantu koordinasikan dengan pengurus partai dan tim saya. Kita akan cari solusi bersama supaya program-program pelatihan di tingkat lokal ini bisa berjalan lebih baik," janjinya.
Sebagai pimpinan di Komisi X DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kurniasih menegaskan komitmennya untuk terus mendorong penguatan peran pemuda, khususnya dalam membuka akses kerja dan meningkatkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Ia menilai, pemberdayaan generasi muda melalui peningkatan kompetensi menjadi kunci utama dalam mengatasi persoalan pengangguran serta kesenjangan kesempatan kerja yang masih terjadi hingga saat ini.
"Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kompetensi anak-anak muda kita melalui skilling, upskilling, dan reskilling. Dengan begitu, mereka punya daya saing yang lebih baik di dunia kerja," pungkas Politisi Fraksi PKS ini.
Kurniasih juga berharap agar berbagai inisiatif pelatihan yang digagas oleh organisasi kepemudaan seperti Karang Taruna dapat terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta.
Dengan kolaborasi yang kuat, ia optimistis generasi muda Indonesia akan memiliki peluang yang lebih luas untuk berkembang dan berkontribusi di berbagai sektor.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]