WAHANANEWS.CO, Jakarta – Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Surabaya dan Malang.
Program ini dinilai sebagai langkah strategis yang tidak hanya menjawab persoalan darurat sampah perkotaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari solusi menghadapi krisis energi global yang tengah berlangsung.
Baca Juga:
ALPERKLINAS: Ada 17 Barang Elektronik yang Harus Dicabut Colokannya untuk Hemat Listrik
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menyatakan bahwa transformasi sampah menjadi energi listrik merupakan pendekatan visioner yang sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat penanganan sampah nasional.
“Kita tidak bisa lagi melihat sampah sebagai beban semata. Sampah adalah sumber daya energi masa depan yang jika dikelola dengan tepat akan memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan,” ujar Tohom, Selasa (31/3/2026).
Ia menilai, kebijakan pembangunan PSEL di sejumlah wilayah seperti Surabaya dan Malang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Peduli Terhadap Ketahanan Ekonomi Masyarakat, ALPERKLINAS Minta Kementerian ESDM dan PLN Sosialisasikan Penghematan Pemakaian Listrik
Menurutnya, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
“Di tengah ancaman krisis energi global, Indonesia harus mempercepat diversifikasi energi. PSEL adalah salah satu jawaban konkret karena mampu mengubah masalah lingkungan menjadi solusi energi,” lanjutnya.
Data menunjukkan, Surabaya Raya menghasilkan sekitar 3.692 ton sampah per hari, sementara Malang Raya mencapai 1.947 ton per hari.
Pemerintah pun menyiapkan pembangunan PSEL berkapasitas besar di Sumberejo, Surabaya dan Bunut Wetan, Kabupaten Malang, guna mengolah ribuan ton sampah tersebut menjadi energi listrik yang bermanfaat.
Tohom menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, swasta, dan partisipasi masyarakat.
Ia juga mengungkapkan pentingnya edukasi publik agar masyarakat turut berperan dalam pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Sebagai Pengamat Energi dan Lingkungan, Tohom menilai bahwa pengembangan PSEL merupakan langkah strategis dalam menjawab dua tantangan sekaligus, yakni krisis lingkungan akibat sampah dan kebutuhan energi bersih.
“Ke depan, kita harus mendorong inovasi teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan agar PSEL tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi fondasi sistem energi berkelanjutan Indonesia,” katanya.
Ia juga mengapresiasi pernyataan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq yang menegaskan bahwa pembangunan PSEL merupakan implementasi langsung arahan Presiden.
Menurut Tohom, konsistensi kebijakan dan dukungan regulasi akan menjadi faktor penentu keberhasilan program tersebut.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa sinergi antar daerah seperti yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merupakan kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.
“Pendekatan regional akan mempercepat penanganan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya.
Dengan target nasional pengelolaan sampah hingga 100 persen pada 2029, pembangunan PSEL diharapkan mampu menekan timbulan sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi listrik terbarukan yang dapat mendukung ketahanan energi nasional.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]