“Kita berada pada era ketika sampah harus menjadi bagian dari ekonomi baru. Inovasi seperti ini relevan dengan agenda global, mendorong perubahan gaya hidup berkelanjutan, dan membuka peluang ekonomi berbasis lingkungan. Bila diperluas secara nasional, dampaknya akan besar terhadap pengurangan sampah plastik dan peningkatan partisipasi masyarakat,” tambahnya.
Lebih jauh, Tohom mengatakan bahwa kolaborasi antara sekolah dan lembaga keuangan merupakan model kemitraan masa depan, menggabungkan edukasi, teknologi, dan insentif ekonomi.
Baca Juga:
Lindungi Lingkungan, 8 Miliarder Dunia Beli Ribuan Hektare Tanah untuk Jadi Hutan
Ia berharap BSI terus memperluas pemanfaatan RVM ke daerah-daerah lain dengan menggandeng pemerintah daerah, komunitas pendidikan, dan pelaku industri.
“Untuk menyelamatkan bumi, langkah kecil harus diperbanyak dan diperkuat. ATM plastik ini adalah sebagian jawaban bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang kelas dan halaman sekolah,” tutur Tohom menutup analisisnya.
Sebelumnya, dalam acara peluncuran di Sekolah Alam Cikeas, berbagai pihak seperti Direktur Sekolah Alam Cikeas Dodi Mawardi, jajaran pimpinan BSI, dan komunitas pendidikan nasional menegaskan pentingnya integrasi aksi lingkungan dalam kegiatan sekolah.
Baca Juga:
Beroperasi Sejak 2024, Diduga SPBU Sigumpar Tidak Memiliki Persetujuan Lingkungan
Mereka menyebut RVM sebagai simbol nyata kolaborasi strategis dalam mendukung ekonomi hijau sekaligus menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.