WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memprediksi dinamika perdagangan internasional akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks pada tahun 2026.
Ia menilai menguatnya kebijakan proteksionisme yang diterapkan sejumlah negara menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan kinerja ekspor Indonesia di pasar global.
Baca Juga:
Mendag Resmikan Masjid Al-Mizan di Kampus Metrologi, Dorong Sinergi Pendidikan dan Spiritualitas
Dalam kondisi tersebut, pemerintah dituntut bergerak cepat dan adaptif dengan menyiapkan strategi komprehensif agar posisi perdagangan Indonesia tetap kompetitif dan tidak tergerus oleh tekanan eksternal.
Ketidakpastian ekonomi dunia dinilai menjadi sinyal penting bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan pasar domestik secara lebih mandiri.
"Merespons situasi global tersebut, Kementerian Perdagangan memiliki tiga program utama. Program tersebut meliputi pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan UMKM BISA Ekspor," ujar Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Baca Juga:
Mendag Pastikan Stok Pangan Aman, Imbau Warga Tidak Panic Buying
Mendag menjelaskan, fokus utama Kementerian Perdagangan saat ini adalah memastikan terciptanya akses pasar yang luas sekaligus aman bagi para pelaku usaha.
Selain membuka peluang pasar luar negeri, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada perlindungan ketersediaan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok di dalam negeri.
Pengamanan pasar domestik dilakukan melalui penguatan daya beli masyarakat, salah satunya dengan mendorong pelaksanaan program belanja berskala nasional.
Pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan pelaku usaha lokal agar industri manufaktur dalam negeri mampu memenuhi tingginya kebutuhan pasar nasional.
"Momentum seperti Harbolnas dan Bina Diskon Lebaran membuktikan kondisi pasar dalam negeri cukup sehat. Pasar domestik juga dinilai tetap terjaga," kata Budi.
Kementerian Perdagangan mencatat sejumlah festival belanja nasional berhasil menciptakan transaksi ekonomi yang signifikan dan memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.
Program Friday Mubarak, misalnya, membukukan nilai transaksi hingga Rp72,3 triliun selama periode pelaksanaannya.
Capaian tersebut diikuti oleh sektor penjualan pada masa libur yang menghasilkan pendapatan sebesar Rp69,2 triliun.
Pemerintah optimistis tren positif konsumsi rumah tangga akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya daya saing produk dalam negeri.
Selain penguatan pasar domestik dan ekspor, Mendag juga menegaskan pentingnya program ‘UMKM BISA Ekspor’ sebagai pilar ketiga dalam menghadapi tekanan proteksionisme global.
Program ini difokuskan pada fasilitasi pelaku usaha mikro dan kecil, mulai dari peningkatan desain kemasan hingga pembenahan tata kelola usaha yang lebih modern dan profesional.
Produk UMKM kini terus didorong untuk menembus jaringan ritel modern serta pusat perbelanjaan berskala besar.
Pendampingan berkelanjutan diberikan agar kualitas produk lokal mampu bersaing secara sehat dengan barang impor yang masuk ke pasar domestik.
"Langkah pertama berkaitan dengan penguatan daya saing. Upaya ini juga mencakup perluasan akses pasar serta peningkatan penggunaan produk lokal," ucap Budi.
Di sisi lain, pemerintah juga memanfaatkan instrumen pengamanan perdagangan internasional untuk melindungi industri nasional dari praktik persaingan tidak sehat.
Kebijakan antidumping dan tindakan pengamanan perdagangan atau safeguard diterapkan terhadap produk asing yang berpotensi merugikan pasar domestik.
Budi menegaskan, langkah perlindungan tersebut sepenuhnya sejalan dengan ketentuan yang berlaku dalam sistem perdagangan internasional.
Kementerian Perdagangan berkomitmen menjaga iklim usaha yang adil dan berimbang bagi seluruh pelaku industri di Indonesia.
"Jadi, kita menggunakan mekanisme trade remedies yang secara internasional diperbolehkan. Jika terjadi praktik dumping dari negara lain, Indonesia dapat mengenakan kebijakan antidumping," ujar Budi.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]