WAHANANEWS.CO, Jakarta - Indonesia sedang menghadapi darurat sampah yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata setelah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap posisi Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengelolaan Sampah di Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia menempati peringkat kelima negara penghasil sampah terbanyak secara global, di bawah China, Amerika Serikat, India, dan Brasil.
Baca Juga:
Ancaman Overkapasitas Sampah Tahun 2028, MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai PLTSa Solusi Strategis
Tak hanya itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan jumlah sampah laut tertinggi ketiga di dunia, kondisi yang dinilai sangat memprihatinkan bagi negara kepulauan dengan kekayaan maritim besar.
"India nomor satu, China nomor dua, Indonesia nomor tiga. Padahal Amerika nomor dua penghasil sampah total, tetapi untuk sampah plastik di laut Amerika berada di urutan ke-24, artinya kita jauh melampaui Amerika dalam hal membuang sampah plastik ke laut," kata Tito.
Ia menegaskan bahwa persoalan sampah laut Indonesia jauh lebih serius dibanding sejumlah negara maju, terutama dalam konteks pencemaran plastik yang mengancam ekosistem.
Baca Juga:
BNPB Percepat Penanganan Pascabencana Banjir dan Longsor di Aceh
Penumpukan sampah bahkan terjadi di sejumlah kawasan konservasi unggulan nasional seperti Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Bunaken di Sulawesi Utara, dan Raja Ampat di Papua Barat Daya.
Diakui Tito, persoalan sampah laut kerap terhambat karena adanya saling lempar tanggung jawab antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
"Di laut Bunaken, sampahnya banyak datang dari Manado lewat arus, sampah plastik ini terlihat seperti ubur-ubur bagi penyu dan ikan sehingga mereka memakannya dan mati. Sampah juga menutupi terumbu karang yang akhirnya mati, jika terumbu karang mati, ikan hilang, turis pun tidak mau datang lagi," jelas Tito.