Ia mengingatkan bahwa dampak sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut kelangsungan ekosistem laut dan keberlanjutan sektor pariwisata daerah.
"Walikota dan gubernur harus serius mengelola sampah di kota agar tidak berakhir di taman nasional," imbuh dia.
Baca Juga:
Ancaman Overkapasitas Sampah Tahun 2028, MARTABAT Prabowo-Gibran Nilai PLTSa Solusi Strategis
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 24,8 juta ton, angka yang menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat sekitar 20 juta ton sampah masuk ke perairan Indonesia setiap tahun, dengan rincian 16 juta ton berasal dari aktivitas daratan yang terbawa ke laut dan 4 juta ton dari aktivitas kelautan.
Sebagai respons atas situasi tersebut, pemerintah menargetkan pengelolaan sampah nasional mencapai 100 persen pada 2029 melalui berbagai strategi terpadu.
Baca Juga:
BNPB Percepat Penanganan Pascabencana Banjir dan Longsor di Aceh
Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) di 34 kota dan kabupaten.
"Sekarang ada teknologi mengubah sampah menjadi energi, China sangat maju dalam hal ini. Kota-kota di China yang dulu kotor sekarang bersih seperti Beijing, Shanghai karena mereka membakar sampah menggunakan insinerator untuk menggerakkan turbin listrik," papar Tito.
Ia menilai pemanfaatan teknologi insinerator modern dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menekan volume sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif.