“Kalau komunitasnya sudah solid, tinggal diperkuat sinerginya. Ini modal sosial yang sangat mahal. Pemerintah tinggal memastikan konsistensi kebijakan dan dukungan anggaran,” katanya.
Ia juga menyoroti inovasi pengolahan sampah menjadi produk bernilai tambah, seperti konversi sampah plastik menjadi bahan bakar setara minyak tanah/solar serta produksi paving block.
Baca Juga:
Pastikan Kesiapan Arus Mudik Lebaran 2026, Kakorlantas Polri Bersama Kapolda Jambi Tinjau Tol Bayung Lencir–Tempino
Menurutnya, langkah tersebut membuktikan bahwa sampah dapat menjadi sumber energi alternatif sekaligus peluang ekonomi baru.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa konversi sampah menjadi energi harus dikawal dengan standar teknologi dan pengawasan emisi yang ketat.
“Waste to energy adalah solusi masa depan, tetapi harus memenuhi prinsip keberlanjutan dan keselamatan lingkungan. Jika dikelola baik, ini bisa mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan ekonomi sirkular di daerah,” jelasnya.
Baca Juga:
Bripda Masias Siahaya Oknum Brimob yang Aniaya Siswa Pakai Helm Hingga Tewas Terancam Pasal Berlapis
Lebih jauh, ia menilai target memboyong Piala Adipura 2027 bukan sekadar ambisi simbolik.
Menurutnya, penghargaan tersebut harus dijadikan parameter keberhasilan sistem yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
“Adipura itu bonus. Yang paling penting adalah perubahan perilaku. Ketika pengelolaan sampah menjadi gaya hidup, maka Kukar akan bersih bukan karena lomba, tetapi karena kesadaran kolektif. Inilah esensi pembangunan berkelanjutan,” tegas Tohom.