WAHANANEWS.CO, Jakarta - Persoalan penumpukan sampah kini semakin mendesak di berbagai wilayah Indonesia.
Kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian penuh menjadi sinyal serius bahwa sistem pengelolaan sampah nasional membutuhkan pembenahan segera.
Baca Juga:
DPR Siap ke IKN, Tapi Tunggu Mitra Eksekutif Ikut Pindah
Volume sampah yang terus meningkat setiap hari tidak sebanding dengan kapasitas penampungan yang tersedia.
Pemerintah bahkan memproyeksikan hampir seluruh TPA di Tanah Air akan mengalami kelebihan kapasitas paling lambat pada tahun 2028 apabila tidak ada langkah terobosan yang signifikan dan berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mempercepat pengembangan teknologi waste to energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Baca Juga:
DPR Dorong Produsen Minuman Kurangi Gula, Tekan Lonjakan Diabetes Anak
Program ini diharapkan mampu menjadi solusi ganda, yakni mengurangi beban sampah sekaligus menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.
Dalam rencana strategisnya, pemerintah menargetkan pembangunan 34 proyek PLTSa di 34 kota selama periode 2026 hingga 2027.
"Pengelolaan sampah perkotaan merupakan kegiatan prioritas yang mendapat pantauan langsung Bapak Presiden Prabowo. Karena itu, diperlukan upaya yang serius dan sistematis agar sampah perkotaan tidak lagi menjadi sumber masalah, melainkan justru memberi manfaat," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot seusai meninjau PT Sumber Organik yang membangun dan mengoperasikan Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, Surabaya, Rabu (15/4/2026).
Lebih lanjut, Yuliot menjelaskan bahwa pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sebagai dasar hukum untuk mempercepat penanganan sampah perkotaan.
Regulasi ini mendorong pemanfaatan teknologi ramah lingkungan dalam mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan yang bernilai ekonomis.
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026, Presiden juga mengumumkan rencana peluncuran Gerakan Indonesia ASRI (aman, sehat, resik, dan indah).
Gerakan ini dirancang sebagai langkah kolektif berskala nasional untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan tertata, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Presiden menegaskan bahwa persoalan sampah telah menjadi isu krusial di banyak daerah dan membutuhkan penanganan cepat serta menyeluruh.
Ia mengingatkan bahwa kondisi TPA di Indonesia kian kritis dan berpotensi kolaps dalam waktu dekat jika tidak segera diatasi.
"Persoalan sampah ini menjadi masalah. Diproyeksikan hampir semua TPA sampah akan mengalami overcapacity pada tahun 2028, bahkan lebih cepat," kata Prabowo.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sumber Organik Agus Nugroho Santoso mengungkapkan bahwa perusahaannya saat ini mengelola sekitar 1.600 ton sampah per hari yang berasal dari Kota Surabaya dan sekitarnya.
Berbeda dengan pengelolaan di banyak daerah lain yang hanya fokus pada sampah baru, pihaknya juga memanfaatkan timbunan sampah lama untuk diolah kembali menjadi produk yang bernilai guna.
"Kami mengolah timbunan sampah, baik sampah lama maupun baru, menjadi bahan yang bermanfaat," ujar Agus.
Diketahui, PT Sumber Organik telah membangun dan mengoperasikan fasilitas Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo, Surabaya, yang diresmikan Presiden Republik Indonesia pada 6 Mei 2021.
Keberadaan fasilitas ini menjadi salah satu contoh implementasi nyata pengolahan sampah berbasis energi di Indonesia.
Tidak hanya itu, di kawasan TPA Benowo saat ini juga tengah dibangun fasilitas waste to fuel oleh PT Prakarsa Energi Sejahtera (SEP).
Proyek ini bertujuan mengolah sampah, khususnya plastik, menjadi bahan bakar alternatif guna mengurangi timbunan sampah sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Proses pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar dilakukan melalui beberapa tahapan, dimulai dari penyortiran manual (handpicking) untuk memastikan bahan baku berupa plastik.
Selanjutnya, material tersebut diolah menggunakan teknologi pirolisis dengan sistem flue gas treatment agar memenuhi standar emisi lingkungan yang telah ditetapkan.
Hasil akhirnya berupa Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT) yang setara dengan diesel oil.
Saat ini, pembangunan pabrik waste to fuel masih dalam tahap konstruksi.
Setelah beroperasi penuh, fasilitas ini diharapkan mampu mengolah sampah kota dalam jumlah besar, dengan kapasitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Berdasarkan uji coba awal (pilot project), teknologi ini diperkirakan mampu menghasilkan BBMT sekitar 60 hingga 70 kiloliter per hari, sehingga berpotensi menjadi solusi inovatif dalam mengatasi krisis sampah sekaligus mendukung transisi energi bersih di Indonesia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]