WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan bekerja dari rumah atau WFH setiap Jumat dalam satu pekan bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, ada sejumlah ketentuan yang diterapkan supaya WFH tak membuat para ASN turun produktivitasnya.
Dikutip dari postingan Badan Komunikasi Pemerintah di akun instagram @bakom.ri, selama periode WFH itu, ASN wajib siap siaga untuk menerima tugas atau stand by. Sebab, WFH mereka tekankan bukan hari libur tambahan, melainkan kebijakan yang ditujukan untuk transformasi budaya kerja.
Baca Juga:
Selewengkan WFH Jumat ASN Kota Depok untuk Tamasya: Publik BASIS-24 Mengawasi
"Kebijakan Work From Home (WFH) setiap hari Jumat bukan libur. Melainkan jadi bagian dari transformasi budaya kerja ASN yang lebih adaptif dan efisien," tulis Bakom RI dalam postingannya, dikutip Senin (6/4/2026).
Demi menjaga produktivitas selam WFH para ASN diwajibkan untuk menjaga perangkat komunikasi aktif selama jam kerja. Bahkan, para ASN juga wajib merespons panggilan atau pesan tak lebih dari 5 menit. ASN juga diharuskan melaporkan capaian kinerja secara berkalan.
Pemantauan ketat kinerja juga akan dilakukan dengan mekanisme pengawasan menggunakan teknologi geo location. Karenanya, keberadaan ASN akan terus terpantau selama jam kerja, hingga dievaluasi terus menerus untuk efisiensi energi dan kinerja nya.
Baca Juga:
Bupati Ciamis Ajak ASN Tetap Optimal Layani Masyarakat Meski Anggaran Terbatas
"Pemerintah juga memastikan layanan publik tetap berjalan optimal, terutama pada sektor-sektor strategis yang langsung melayani kebutuhan masyarakat. Sehingga transformasi budaya kerja ini mendorong cara kerja yang lebih modern, tanpa mengurangi kualitas pelayanan," sebagaimana tertera dalam postingan Bakom RI.
Sebagai informasi, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga telah menegaskan supaya para ASN tetap standby atau aktif selama WFH di rumah. Ia mengatakan, telat respons pesan atau panggilan untuk tugas lebih dari 5 menit akan kena sanksi.
"Untuk meyakinkan bahwa ASN itu benar-benar melaksanakan WFH, dan kemudian handphone mereka diminta untuk aktif, sehingga dapat diketahui lokasi melalui geo-location," kata Tito dalam dalam konferensi pers di Seoul, Korea Selatan, Selasa (31/3) sebagaimana dilansir CNN Indonesia.