WAHANANEWS.CO - Seekor orang utan jantan turun dari hutan dan mendekati permukiman warga di Langkat, memicu evakuasi cepat demi menyelamatkan satwa dilindungi itu dari ancaman racun hingga perburuan.
Seekor orang utan jantan berulang kali terlihat turun ke gubuk warga dan berkeliaran di sekitar perkebunan karet serta kelapa sawit di Desa Karya Jadi, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (25/4/2026) -- kemunculannya memicu kekhawatiran karena berisiko terpapar racun pertanian hingga tertembak pemburu babi.
Baca Juga:
Rusia Tuduh AS Kejar Minyak di Balik Intervensi Venezuela dan Iran
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan tim Human Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) YOSL-OIC langsung bergerak melakukan evakuasi untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.
Informasi awal diperoleh pada Senin (20/4/2026) saat tim HOCRU melakukan pemantauan di lokasi, setelah warga melaporkan orang utan tersebut kerap turun dari pepohonan dan mendekati area perladangan.
"Tim langsung berkoordinasi untuk menindaklanjuti laporan tersebut guna mencegah potensi konflik antara manusia dan satwa," ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Amenson Girsang, Sabtu (25/4/2026).
Baca Juga:
Dari Narkoba ke Pencucian Uang, Sindikat The Doctor Terdesak
Sehari kemudian, Selasa (21/4/2026), tim gabungan dari Resor Aras Napal dan HOCRU YOSL-OIC menemukan satu individu orang utan berada di area hutan terisolasi yang dikelilingi kebun karet dan sawit muda.
Proses evakuasi dilakukan oleh dokter hewan dengan metode pembiusan menggunakan dosis terukur untuk memastikan keselamatan satwa selama penanganan.
"Setelah berhasil diamankan, orangutan tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan. Hasilnya, orangutan jantan berusia sekitar 25 tahun dengan bobot kurang lebih 60 kilogram itu dinyatakan dalam kondisi sehat tanpa luka maupun cacat," ujarnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tim memutuskan melakukan translokasi pada hari yang sama ke habitat yang lebih aman melalui koordinasi lintas lembaga.
Lokasi pelepasliaran ditetapkan di hutan primer Resor Cintaraja, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser yang masih alami dan jauh dari aktivitas manusia.
"Perjalanan menuju titik pelepasliaran tidak mudah. Tim harus menempuh medan berat, termasuk menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit untuk mengangkut orangutan tersebut. Jarak antara lokasi evakuasi dan lokasi translokasi diperkirakan mencapai 14 kilometer," katanya.
Setibanya di lokasi, orang utan tersebut langsung dilepasliarkan dan segera memanjat pohon terdekat sebelum menghilang ke dalam rimbunnya hutan.
"Kegiatan ini merupakan bentuk respon cepat kolaborasi para pihak dalam menangani potensi interaksi negatif antara manusia dan orang utan serta upaya penyelamatan satwa liar dilindungi agar dapat kembali hidup aman di habitat alaminya," ujarnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]