Ia juga mengapresiasi inisiatif pembentukan tim khusus serta pembukaan kanal pengaduan untuk korban kekerasan di lingkungan olahraga.
Menurutnya, perlindungan terhadap korban harus menjadi prioritas utama dalam proses ini. Tidak hanya dari sisi hukum, tetapi juga dalam aspek pemulihan psikologis dan sosial.
Baca Juga:
Prestasi Gemilang: Atlet Panjat Tebing Indonesia Bersinar di Ajang Asia, Bawa Pulang Tiga Medali
“Korban harus mendapatkan pendampingan maksimal, termasuk akses pemulihan psikologis yang memadai. Identitas mereka harus dijaga dan dilindungi, agar tidak menghadapi tekanan sosial karena keberanian mereka untuk bersuara. Saya sejalan dengan upaya Kemenpora dalam mendukung proses investigasi yang dilakukan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia. Saya juga sangat mengapresiasi pembentukan tim khusus serta langkah Kemenpora yang membuka ruang pengaduan bagi para korban yang pernah atau sedang mengalami pelecehan seksual maupun kekerasan fisik.”
Lebih lanjut, Verrell mendorong seluruh federasi olahraga untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan pemusatan latihan nasional.
Ia menilai perlu adanya penguatan sistem pengawasan serta mekanisme perlindungan atlet agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Baca Juga:
Tiga Medali Dipersembahkan Tim Panjat Tebing Indonesia di Hari Kedua The World Games 2025
“Kasus ini menjadi pengingat bagi kita bersama bahwa integritas pembinaan atlet harus diutamakan. Sistem pengawasan dan perlindungan di federasi olahraga dan pelatnas juga harus diperkuat, agar kasus seperti ini tidak terulang. Karena peristiwa ini bukan hanya menyakitkan bagi korban tapi juga bagi citra olahraga tanah air,” pungkas Verrell.
Kasus ini menjadi refleksi penting bagi dunia olahraga nasional bahwa prestasi harus berjalan seiring dengan perlindungan dan penghormatan terhadap hak serta martabat atlet.
Transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan kepada korban menjadi kunci dalam memastikan ekosistem olahraga yang sehat dan berintegritas.