Ortega menyoroti tiga fokus utama yang perlu mendapat perhatian, yaitu ketahanan pangan pemuda (food sustainability for youth), manajemen risiko bencana (disaster risk and management), serta program ketahanan digital (digital resilience program).
Pertemuan ini bertujuan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program kepemudaan selama lima tahun terakhir, sekaligus menyusun arah kebijakan baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan global.
Baca Juga:
Perekonomian Nasional Akhir Tahun 2025 Terjaga Tetap Resilien
Dalam sesi evaluasi akhir, para delegasi mendiskusikan capaian serta kendala dalam pelaksanaan rencana kerja sebelumnya.
Penilaian difokuskan pada lima domain ASEAN Youth Development Index (YDI), meliputi pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, ketenagakerjaan dan peluang, partisipasi dan keterlibatan, serta literasi digital.
Sementara itu, workshop difokuskan pada penyempurnaan draf ASEAN Work Plan on Youth 2026–2030 yang dirancang untuk menjawab berbagai isu kekinian, di antaranya transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan kesiapan pemuda dalam ekonomi digital, penguatan ketahanan iklim melalui peran aktif generasi muda, peningkatan perhatian terhadap kesehatan mental, serta pengembangan kewirausahaan sosial sebagai solusi atas berbagai persoalan di masyarakat.
Baca Juga:
Anwar Ibrahim Tegaskan Netralitas Malaysia sebagai Ketua ASEAN 2025 dalam Konflik Kamboja–Thailand
Melalui forum ini, ASEAN kembali menegaskan posisi strategis pemuda sebagai agen perubahan sekaligus penggerak integrasi kawasan.
Dengan keterlibatan aktif ASEAN Senior Officials Meeting on Youth (SOMY), draf rencana kerja ini diharapkan mampu menjadi pedoman yang aplikatif dan berdampak luas bagi lebih dari 200 juta pemuda di kawasan ASEAN.
Dokumen ASEAN Work Plan on Youth ini akan menjadi acuan resmi kerja sama antarnegara anggota ASEAN dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan pemuda, guna mewujudkan komunitas ASEAN yang lebih kohesif, responsif, dan berorientasi pada manusia.