WAHANANEWS.CO, Jakarta - Filipina menargetkan tercapainya penyelesaian kode etik Laut China Selatan (LCS) saat negara tersebut menjabat sebagai ketua ASEAN pada 2026.
Harapan ini mengemuka seiring adanya konsensus yang mulai terbentuk antara negara-negara Asia Tenggara dan Tiongkok mengenai pentingnya aturan yang jelas dan disepakati bersama.
Baca Juga:
Sempat Dikirim ke RI, Kapal Berisi Debu Seng Terpapar Radioaktif Cesium-137 Terjebak di LCS
Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, menegaskan bahwa kedua belah pihak sudah memiliki kesamaan pandangan terkait urgensi penyelesaian dokumen tersebut.
Dalam laporan The Straits Times, Lazaro menyampaikan bahwa kode etik yang saat ini sedang dinegosiasikan harus memiliki kekuatan hukum yang mengikat agar dapat benar-benar diterapkan di lapangan.
Ia mengingatkan bahwa ASEAN dan Tiongkok sebenarnya telah berkomitmen menyusun kode etik ini sejak 2002.
Baca Juga:
Badai Tropis Bualoi Terjang Filipina, 10 Orang Tewas dan 13 Hilang
Namun, perjalanan menuju kesepakatan final berjalan sangat panjang; dibutuhkan waktu hingga 15 tahun hanya untuk memulai pembahasan resmi, dan perkembangan yang diraih hingga kini masih dinilai lambat.
Lazaro mengungkapkan bahwa meskipun prosesnya berlarut-larut, terdapat pemahaman bersama bahwa penyelesaian kode etik merupakan aspirasi seluruh negara ASEAN maupun Tiongkok.
Dokumen tersebut akan menjadi instrumen penting dalam mengatur perilaku negara-negara yang memiliki kepentingan di kawasan Laut China Selatan.