Lebih lanjut, Tabitha menjelaskan bahwa pendekatan yang diterapkan tidak bersifat kaku, melainkan menyesuaikan dengan kondisi dan dinamika di lapangan.
Hal ini dilakukan agar pesan terkait safeguarding dapat diterima secara lebih alami dan mudah dipahami oleh seluruh pihak.
Baca Juga:
Erick Thohir Tekankan Persatuan Stakeholder Olahraga di HUT ke-74 NOC Indonesia
Inisiatif ini juga mendapat dukungan dari Pengurus Besar Akuatik Indonesia. Wakil Ketua Umum I Bidang Pembinaan Prestasi dan Sport Science, Wisnu Wardhana, menilai kehadiran safeguarding menjadi langkah penting dalam memperkuat sistem pembinaan atlet.
"Prestasi tidak hanya dibangun dari aspek teknik dan fisik, tetapi juga dari rasa aman dan nyaman atlet. Kehadiran safeguarding menjadi langkah positif memastikan pembinaan holistik, melindungi atlet sekaligus meningkatkan kualitas ekosistem olahraga," ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, penerapan safeguarding oleh NOC Indonesia merupakan elemen krusial dalam mendukung pengembangan prestasi atlet dalam jangka panjang.
Baca Juga:
Kemenpora Matangkan Strategi Hadapi Tantangan SEA Games 2027 di Malaysia
Ia juga menilai langkah ini dapat menjadi contoh awal bagi cabang olahraga lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam setiap penyelenggaraan kompetisi.
Ke depan, NOC Indonesia berharap safeguarding tidak hanya berhenti sebagai program semata, tetapi dapat berkembang menjadi budaya yang tertanam kuat di seluruh level pembinaan olahraga di Tanah Air, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Sepanjang tahun 2026, NOC Indonesia juga telah menggelar berbagai kegiatan edukasi terkait safeguarding, di antaranya dalam Rapat Kerja Nasional Pengurus Besar Taekwondo Indonesia serta Kejuaraan Nasional Gymnastic.