WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kualitas lini tengah tim nasional Belanda menjelang Piala Dunia 2026 masih menuai tanda tanya besar.
Hal ini tidak lepas dari performa para gelandang utama yang dinilai belum stabil di level klub masing-masing.
Baca Juga:
Disambut Hangat di Amsterdam, Presiden Prabowo Awali Misi Perkuat Diplomasi Indonesia-Belanda
Salah satu sorotan tertuju pada Tijjani Reijnders yang belum mendapatkan peran reguler dan lebih sering tampil sebagai pemain pengganti di Manchester City.
Pengamat sepak bola asal Belanda, Valentijn Driessen, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal kurang positif bagi kesiapan tim.
Ia menyoroti fakta bahwa banyak pemain yang dipanggil justru tidak selalu menjadi pilihan utama di klubnya, sehingga berdampak pada konsistensi permainan mereka.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Disambut Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima di Istana Huis ten Bosch
Selain Reijnders, pelatih Ronald Koeman juga kerap memasukkan nama-nama seperti Frenkie de Jong, Ryan Gravenberch, Xavi Simons, Jerdy Schouten, hingga Teun Koopmeiners dalam skuad.
Meski memiliki potensi besar, performa para pemain tersebut sepanjang musim ini dinilai belum menunjukkan kestabilan yang cukup untuk menghadapi kompetisi sekelas Piala Dunia.
Di sisi lain, kedalaman skuad Belanda di sektor gelandang juga masih didominasi pemain muda yang minim pengalaman di turnamen besar.
Kondisi ini membuat De Oranje dinilai belum berada dalam posisi ideal untuk bersaing dengan negara-negara unggulan lainnya.
"Coba hitung berapa pemain yang benar-benar jadi pilihan pertama di klubnya. Dengan skuad seperti itu, Piala Dunia akan menjadi tantangan yang sangat berat," kata Driessen seperti dilaporkan RRI, Selasa 21 April 2026.
Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Portugal dan Prancis, kekuatan lini tengah Belanda masih dianggap kalah matang.
Portugal, misalnya, memiliki kombinasi pemain seperti Vitinha, Joao Neves, dan Bruno Fernandes yang tampil konsisten di level tertinggi.
Sementara itu, Prancis bahkan dinilai mampu menyusun beberapa variasi lini tengah yang sama kuatnya dengan kedalaman skuad yang lebih merata.
Meski demikian, Belanda sebenarnya tampil cukup impresif pada babak kualifikasi dengan mencatatkan enam kemenangan dan dua hasil imbang di Grup G bersama Polandia, Finlandia, Malta, dan Lituania.
Namun, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan sesungguhnya, mengingat tingkat persaingan di grup tersebut dianggap belum terlalu kompetitif.
Tantangan yang lebih berat dipastikan akan dihadapi pada putaran final.
Di fase grup Piala Dunia 2026, Belanda tergabung di Grup C bersama Jepang, Swedia, dan Tunisia tim-tim yang dikenal memiliki kualitas merata dan mampu memberikan perlawanan sengit.
Dalam situasi ini, performa lini tengah akan menjadi faktor krusial yang sangat menentukan sejauh mana langkah Belanda dapat melaju di turnamen tersebut.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]