WahanaNews.co, Jakarta – Kodok Tebu berasal dari wilayah Amerika Selatan dan Tengah. Hewan berkulit cokelat itu telah menyebabkan malapetaka di Australia.
Kodok tebu dengan racun di kulitnya kerap berkeliaran di pinggiran kota Brisbane, Australia. Hampir 200 juta kodok tebu menginvasi wilayah ini dan mengancam ekosistem hewan lain yang ada di sana.
Baca Juga:
Fakta-fakta Dua Polisi Semarang Peras Remaja, Sempat Dikepung Warga
Kondisi ini telah berlangsung lama, yakni sejak kodok tebu dilepaskan di negara bagian Queensland pada 1935 silam.
Melansir dari CNN Indonesia, Minggu (21/1/2024) sejak itu, kodok justru menyebar ke wilayah lain. Selama perjalanannya ke wilayah-wilayah lain, kodok tebu telah meracuni fauna asli di daerah-daerah yang dilalui. Australia jelas tak menyukai kehadiran 'monster' kodok ini.
Kodok tebu akan melepaskan racun saat sedang berada pada kondisi stres. Racun ini bisa membunuh kadal, ular, buaya, dan hampir semua makhluk hidup yang menyerangnya. Beberapa kucing dan anjing juga pernah jadi korban kodok tebu.
Baca Juga:
PM Prancis Francois Bayrou Sebut Elon Musk 'Ancaman Bagi Demokrasi'
Kodok tebu mengeluarkan racunnya dari kelenjar besar yang ada di bahu mereka. Racun tersebut dapat memicu detak jantung cepat, kejang, kelumpuhan, hingga kematian pada beberapa hewan. Sementara pada manusia, racun kodok tebu bisa memicu rasa nyeri yang hebat.
Memusnahkan katak tebu
Mayoritas kodok ditangkap dengan tangan telanjang. Namun, sebenarnya ada metode pemberantasan kodok yang lebih efisien. Yakni, dengan menargetkan kecebong yang menetas hingga 30 ribu telur.
Cara ini merupakan hasil kerja kolaboratif Profesor Rob Capon, ahli kimia dari Universitas Queensland dan Professor Rick Shine, ahli biologi evolusi dan ekologi dari Universitas Macquarie.
Shine, yang merupakan salah satu pakar kodok tebu di Australia, memperhatikan bahwa di air keruh, hewan ini mampu berenang menuju telur yang dihasilkan oleh betina.
Shine dan timnya kemudian melakukan penelitian terhadap kodok-kodok ini. Dari sini, muncul ide menciptakan Cane Toad Challenge agar timnya bisa mendapat banyak tubuh kodok tebu yang telah mati untuk keperluan penelitian.
Program ini mendorong para pemburu untuk menemukan kodok tebu dan mengirimkan hasil tangkapan mereka. Hal ini juga membantu mengurangi populasi si monster kodok di Australia.
"Membunuh kecebong kodok tebu secara massal jauh lebih efisien daripada membunuh kodok dewasa," ujar Capon, melansir CNN.
Namun, Capon mengakui bahwa memusnahkan kodok tebu di Australia adalah tugas yang mustahil.
Tak hanya di Australia, kodok jenis ini juga banyak ditemukan di negara bagian Florida, Amerika Serikat. Sama seperti Queensland, wilayah ini memiliki iklim hangat yang cocok bagi kodok tebu berkembang biak.
Seperti di Australia, kodok tebu diperkenalkan di Florida pada 1930-an untuk menyerang kumbang tebu. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah kodok tebu di Florida meningkat secara tak disengaja pada tahun 1950-an.
[Redaktur: Alpredo Gultom]