Cara ini merupakan hasil kerja kolaboratif Profesor Rob Capon, ahli kimia dari Universitas Queensland dan Professor Rick Shine, ahli biologi evolusi dan ekologi dari Universitas Macquarie.
Shine, yang merupakan salah satu pakar kodok tebu di Australia, memperhatikan bahwa di air keruh, hewan ini mampu berenang menuju telur yang dihasilkan oleh betina.
Baca Juga:
Fakta-fakta Dua Polisi Semarang Peras Remaja, Sempat Dikepung Warga
Shine dan timnya kemudian melakukan penelitian terhadap kodok-kodok ini. Dari sini, muncul ide menciptakan Cane Toad Challenge agar timnya bisa mendapat banyak tubuh kodok tebu yang telah mati untuk keperluan penelitian.
Program ini mendorong para pemburu untuk menemukan kodok tebu dan mengirimkan hasil tangkapan mereka. Hal ini juga membantu mengurangi populasi si monster kodok di Australia.
"Membunuh kecebong kodok tebu secara massal jauh lebih efisien daripada membunuh kodok dewasa," ujar Capon, melansir CNN.
Baca Juga:
PM Prancis Francois Bayrou Sebut Elon Musk 'Ancaman Bagi Demokrasi'
Namun, Capon mengakui bahwa memusnahkan kodok tebu di Australia adalah tugas yang mustahil.
Tak hanya di Australia, kodok jenis ini juga banyak ditemukan di negara bagian Florida, Amerika Serikat. Sama seperti Queensland, wilayah ini memiliki iklim hangat yang cocok bagi kodok tebu berkembang biak.
Seperti di Australia, kodok tebu diperkenalkan di Florida pada 1930-an untuk menyerang kumbang tebu. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah kodok tebu di Florida meningkat secara tak disengaja pada tahun 1950-an.