WAHANANEWS.CO, Jakarta - Setelah bertahun-tahun menghadapi pembatasan teknologi Amerika Serikat, China kini bersiap memainkan kartu serupa dengan mempertimbangkan pembatasan akses Barat terhadap teknologi kecerdasan buatan dan semikonduktor paling canggih buatan dalam negeri.
Langkah tersebut muncul ketika kemampuan teknologi China berkembang pesat meski Amerika Serikat selama beberapa tahun membatasi akses Beijing terhadap chip canggih dan teknologi strategis lainnya.
Baca Juga:
Airlangga Tandatangani Perjanjian Pendirian WAICO, RI Masuk Organisasi AI Dunia
Kebijakan pembatasan teknologi terhadap China semakin agresif pada masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump, meskipun Washington belakangan menunjukkan sejumlah pelonggaran.
Tekanan tersebut justru mendorong perusahaan-perusahaan China mempercepat pembangunan kemampuan teknologi secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Amerika Serikat.
Perkembangan industri AI China kemudian melahirkan sejumlah model dengan biaya relatif murah yang mampu bersaing dengan produk perusahaan teknologi Amerika.
Baca Juga:
Tak Hanya Banjir, China Kini Diteror 900 Ular Berbisa yang Lepas dari Peternakan
Fenomena itu bahkan membuat sejumlah perusahaan AS mulai memanfaatkan model-model AI buatan China untuk kebutuhan pengembangan teknologi mereka.
CEO Meta Mark Zuckerberg termasuk tokoh industri teknologi Amerika yang memandang pembatasan terhadap model AI China bukan jawaban utama untuk mempertahankan keunggulan AS.
“Bukan solusi yang efektif,” kata Zuckerberg mengenai kemungkinan memblokir model-model AI China dalam wawancara dengan Financial Times yang dilaporkan Reuters, Rabu (29/7/2026).