“Nah, kemarin dari Halim Perdana Kusuma, ditambah dari Husein Sastranegara kita melakukan operasi modifikasi cuaca meng-cover wilayah-wilayah yang diperkirakan curah hujannya akan tinggi,” ujarnya.
Secara teknis, modifikasi cuaca bertujuan mengalihkan potensi hujan dari kawasan permukiman ke area yang lebih aman seperti laut atau waduk melalui mekanisme jumping process.
Baca Juga:
Greenland Jadi Sorotan Dunia, Putin Tuduh Denmark Bertindak Kolonial
“Jadi, bibit kimia itu disebar di atas di awan agar awan tersebut pecah atau agar hujannya diturunkan misalnya di daerah-daerah seperti waduk atau laut itu,” ucap Teten.
Ia menambahkan, mekanisme tersebut dilakukan dengan mencegat awan hujan yang bergerak menuju daratan saat masih berada di atas laut, sehingga curah hujan ekstrem dapat dialihkan.
Operasi modifikasi cuaca akan terus dilaksanakan selama kondisi hujan di wilayah Jawa Barat dan Jakarta dinilai belum terkendali.
Baca Juga:
Laut Mengamuk, BMKG Peringatkan Gelombang 6 Meter Kepung Perairan Indonesia
“Jadi, satu kali penerbangan itu ada yang bawa satu ton tergantung pesawat dan kondisi awannya,” katanya.
Teten mengungkapkan, hingga saat ini BNPB telah melakukan empat kali penerbangan modifikasi cuaca, dengan rincian satu penerbangan dari Jakarta dan satu dari Jawa Barat.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca di Jawa Barat dalam sepekan ke depan masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan sangat lebat disertai kilat dan petir, hingga Rabu (29/1/2026).